Dicampakkan ke lautan karma buruk. Jatuh dan tenggelam dalam keterpurukan untuk masa yang amat panjang.
“Lautan karma buruk” adalah lautan penderitaan. “Untuk masa yang amat panjang” berarti dalam waktu yang panjang. “Jatuh” berarti terperosok. “Tenggelam” berarti terbenam. Artinya, karena biksu atau rohaniwan Dao telah menodai Kolam Teratai, para dewa di langit pasti mencampakkannya ke lautan penderitaan di neraka, tempat ia tenggelam dalam waktu yang panjang tanpa dapat terlahir ke alam yang lebih tinggi.
Di depan gerbang neraka, banyak biksu dan rohaniwan Dao. Mungkinkah itu perkataan kosong? Bukankah sungguh dapat dipercaya?
Neraka adalah penjara di alam baka. Orang dahulu mengatakan bahwa mereka yang menerima hukuman di depan gerbang neraka kebanyakan adalah biksu dan rohaniwan Dao. Perkataan itu bukan ucapan kosong, dan kejadiannya pun terasa semakin dapat dipercaya.
Belakangan ini, angin kebiasaan Barat dan arus baru menerjang tanah Tiongkok.
“Belakangan ini” berarti beberapa tahun terakhir. “Angin kebiasaan Barat” ialah kebiasaan Barat yang dangkal dan sembrono. “Arus baru” ialah hal-hal yang sedang menjadi mode, bagaikan gelombang yang baru datang. “Menerjang” berarti menyerbu. “Tanah Tiongkok” ialah wilayah Tiongkok. Artinya, dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan Barat yang buruk, sembrono, dan bebas tak terkendali telah berembus ke Tiongkok, sehingga kita mengalami kerugian yang amat besar.
Laki-laki dan perempuan mengubah penampilan. Pakaian dan penutup kepala menjadi ganjil. Rasa malu dan kehormatan dibuang seluruhnya.
“Mengubah penampilan” berarti bentuk dan sikap tidak lagi sama. “Ganjil” ialah pakaian aneh yang tidak sesuai kepatutan. Artinya, laki-laki dan perempuan mengubah pembawaan mereka yang semula tulus, setia, dan santun, lalu memakai pakaian ganjil sehingga manusia tidak lagi menyerupai manusia. Mereka tidak lagi memedulikan kehormatan dan rasa malu.
Ada yang memamerkan tubuh dengan pakaian terbuka, menjalin cinta serampangan dan menanam benih karma buruk, serta kehilangan kesucian sebelum menikah.
“Memamerkan diri” berarti tidak bersikap tenang dan terhormat, melenggang untuk menarik perhatian di jalan. “Cinta serampangan” ialah cinta yang tidak patut: laki-laki dan perempuan sembarangan menjalin hubungan dan terbiasa bersenang-senang hingga terjerumus dalam kekacauan. “Menanam benih karma buruk” berarti menanam benih akibat buruk, misalnya hamil sebelum menikah, atau melanggar batas hubungan antargenerasi hingga “menanam giok di Lantian”. Semua itu menciptakan jalinan karma buruk dan kerap melahirkan kemalangan yang tiada habisnya. “Kehilangan kesucian” berarti laki-laki atau perempuan kehilangan keperjakaan atau keperawanan. Artinya, mereka mengenakan pakaian terbuka untuk memamerkan tubuh, mengabaikan tata hubungan manusia dan sembarangan menjalin cinta, serta melakukan hubungan yang melampaui kepatutan sebelum menikah, sehingga kehilangan tubuh yang bersih dan terjaga kesuciannya.