Ada pula yang mempelajari Jalan di gunung ternama, meninggalkan debu dunia dan kebiasaan fana.
Ada pula yang telah melihat kehampaan dunia fana dan tidak ingin tinggal bersama orang duniawi. Ia pun mencari gunung ternama untuk mempelajari serta melatih Jalan keabadian demi memperoleh umur panjang.
Sewajarnya hati seteguh besi dan batu, gerbang meditasi ditutup rapat.
Karena sudah menjadi biksu atau rohaniwan Dao, sewajarnya hati mereka seteguh besi dan batu, menutup rapat pintu aula meditasi, dan tidak bergaul dengan perempuan.
Siapa sangka, minum arak dan makan daging, diam-diam melanggar pantangan serta sila yang dahulu dijaga.
Biksu dan rohaniwan Dao menjunjung pantangan serta sila, dan semula tidak boleh minum arak atau makan daging. Mengapa tiba-tiba mereka melanggarnya? Hal ini di luar dugaan dan sungguh tidak dapat dipahami.
Membolak-balikkan luan dan feng, hanya mengejar kesenangan hati hari ini.
Burung luan dan feng tidak sembarangan memilih pasangan; keduanya dapat diibaratkan perempuan yang tidak sembarangan berganti pasangan. Namun, ada biksu dan rohaniwan Dao yang gemar melakukan pelanggaran seksual dan menggoda perempuan dari keluarga baik-baik, lalu merencanakan pembunuhan terhadap suami perempuan itu atau mengajaknya kawin lari. Mereka memisahkan pasangan dan mengacaukan hubungan, seolah-olah membolak-balikkan luan dan feng. Dalam hati mereka hanya mengejar kesenangan sesaat.
Kolam Teratai dinodai. Para dewa di langit murka.
“Kolam Teratai” ialah kolam berisi bunga teratai di kuil, suatu tempat yang suci dan bersih. Jika biksu dan rohaniwan Dao melakukan hubungan seksual terlarang di sana, mereka tentu telah menodai tempat suci itu. Bagaimana mungkin para dewa di langit tidak murka?