Belum membedakan untung dan bahaya, keras kepala dalam kesesatan tanpa sadar.
Artinya, sebelum balasannya datang, orang yang gemar melakukan pelanggaran seksual masih tidak tahu membedakan manfaat dan bahaya, lalu bertindak sembarangan sesukanya. Setelah masuk jalan sesat, ketika ada orang yang menasihati dan memperingatkan, ia justru bersikeras pada pandangannya sendiri dan tidak menyadari perlunya bertobat.
Siapa menyangka wajah putih bagai bunga teratai menjebak tak terhitung banyaknya pahlawan? Lihatlah riasan merah yang elok, mencelakakan begitu banyak orang unggul.
“Wajah putih bagai bunga teratai” berarti wajah perempuan yang putih dan elok seperti bunga teratai. “Riasan merah yang elok” adalah riasan cantik perempuan, yang setelah memakai pemerah pipi dan bedak merah tampak semakin indah. “Pahlawan” dan “orang unggul” sama-sama merupakan orang yang sangat berbakat. Sebab masa depan mereka rusak sesungguhnya karena dijebak serta dicelakakan kecantikan. Di seluruh dunia, entah berapa banyak jumlahnya!
Jauhilah, jauhilah! Sampai di mana bencana itu akan berhenti?
“Jauhilah, jauhilah” mempunyai nada bahwa hal itu harus benar-benar dijauhi. Jika tidak dijauhi dan justru dilakukan, kapan petaka serta bencana yang ditimbulkannya akan berhenti? “Hu” berarti apa; “di” berarti berhenti.
Manusia di dunia begitu banyak, golongan dan jenisnya tidak seragam.
Manusia di dunia amat banyak. Tingkatan, golongan, dan ragam jenis mereka tidak mungkin semuanya sama.
Ada yang sejak kecil yatim kehilangan sandaran, mencukur rambut untuk menjadi biksu.
“Hu” berarti bersandar. Kehilangan ayah sejak kecil disebut yatim, yakni tidak mempunyai tempat bergantung. Ia terpaksa mencukur rambut dan masuk ke kuil menjadi biksu, bersandar pada perlindungan makhluk-makhluk ilahi.