Bahasa Indonesia / 背景知识导读 / 阅读

《阴律无情》文化导读 · ID

正文阅读

设置
阅读设置书稿封面
18
正在读取版本…
正文阅读

<a id="C5-P10"></a>

Keberadaan penguasa yang juga menanggung akibat dijelaskan melalui riwayat Mingjun Yanwang. Semasa menjadi panglima, ia mengucapkan ikrar menghukum orang jahat agar kembali baik, tetapi menyertakan keinginan membalas dendam. Menurut Chenghuang, campuran tujuan baik dan kebencian itu ikut menjelaskan kedudukannya kemudian. Ia masih menerima hukuman dengan pasir besi panas tiga kali sehari, masing-masing lima belas menit. Sesudah waktu itu berlalu, keadaannya pulih dan ia kembali menjalankan tugas. Mengadili orang lain tidak membebaskannya dari akibat ikrar sendiri. Tugas yang lahir dari tujuan baik dan penderitaan yang lahir dari dendam sama-sama berlangsung dalam riwayatnya.

<a id="C5-P11"></a>

Lamanya penderitaan tidak hanya diterangkan dengan angka. Dongyue Dadi mengatakan bahwa apabila suatu neraka rusak sementara karma penghuninya belum selesai, mereka dapat dipindahkan ke tempat lain untuk melanjutkan hukuman. Berakhirnya tempat tidak sama dengan berakhirnya sebab yang masih harus ditanggung. Ia juga membicarakan jalan keluar melalui habisnya hukuman dan melalui pertolongan yang mempunyai sebab pendukung, termasuk kebajikan terdahulu serta bantuan keluarga. Di tengah penjelasan itu terdapat kesempatan mendengar Dharma ketika penyesalan sejati timbul. Ketiganya tidak boleh dipadatkan menjadi satu rumus, seolah menunggu waktu, mengucapkan penyesalan, dan menerima bantuan selalu menghasilkan perubahan yang sama.

<a id="C5-P12"></a>

Yu bao, akibat yang masih tersisa, dipakai untuk menerangkan kesulitan yang berlanjut setelah keluar dari satu tempat hukuman. Buku dapat sekaligus menyebut manfaat kebajikan dan akibat buruk yang belum berakhir dalam kehidupan baru seorang tokoh. Contoh terperincinya akan terlihat pada orang yang meninggalkan Mingguang Chuzhuan Tang. Yang perlu dijaga di sini ialah perbedaan antara keluar dari neraka dan bebas dari segala akibat. Kesempatan hidup baru memang nyata dalam kisah, tetapi masih perlu dijalani. Cara seseorang menghadapi kesulitan—termasuk apakah ia kembali membalas atau mengulangi perbuatan lama—ikut menentukan apa yang terjadi sesudahnya.

<a id="C5-P13"></a>

Mengalami sakit pun tidak otomatis sama dengan memahami kesalahan. Beberapa tokoh masih memikirkan cara memperoleh kenikmatan lama di tengah hukuman. Yang lain memohon dibebaskan, tetapi belum sungguh memikirkan orang yang pernah disakitinya. Karena itu, pertanyaan berikutnya bukan hanya kapan penderitaan berhenti. Yang perlu diperiksa ialah apa yang berubah dalam diri orang tersebut: apakah ia mengakui perbuatannya, apakah keinginan menyakiti telah ditinggalkan, dan apakah ia bersedia menjalankan hidup yang berbeda. Bab tentang pertobatan dimulai dari satu pertemuan yang memperlihatkan jarak antara meminta bebas dari rasa sakit dan benar-benar menyesali kesalahan.

6. Mengakui kesalahan dan sungguh-sungguh berubah

Menyesal dan mengakui kesalahan

载入中

版本信息