<a id="C6-P01"></a>
Di Neraka Avici, seorang perempuan memohon kepada Ksitigarbha agar dibebaskan. Ia mengakui pernah memperdaya lelaki, mengambil harta mereka, dan memperlakukan mereka dengan kejam sampai tiga orang meninggal. Ia berjanji tidak akan menipu lagi. Namun, sesudah mendapat nasihat, ia tetap dibawa kembali oleh penjaga. Ayu bertanya apakah itu berarti tidak ada lagi harapan baginya. Ksitigarbha menjawab bahwa perempuan tersebut baru ingin segera lepas dari rasa sakit; hatinya belum sungguh sampai pada penyesalan. Ketika batinnya lebih murni, Ksitigarbha akan datang kembali untuk menolong. Permohonannya telah didengar, tetapi perubahan yang diperlukan belum selesai.
<a id="C6-P02"></a>
Perbedaan itu memberi isi pada kata chanhui, penyesalan dan pengakuan atas kesalahan yang disertai tekad memperbaiki diri. Takut terhadap akibat dapat membuat seseorang meminta bantuan, tetapi ia masih perlu melihat perbuatannya dari sisi makhluk yang dirugikan. Dalam percakapan tadi, Ksitigarbha mengingatkan perempuan itu kepada kebajikan kehidupan sebelumnya: persembahan bunga dan mendengarkan kitab telah menghasilkan rupa serta kemampuan berbicara yang baik. Kemampuan tersebut kemudian dipakai dengan kesombongan untuk menyakiti orang lain. Pertobatan mengharuskannya mengakui penyalahgunaan itu, bukan hanya berharap bahwa bekal baik atau kepandaiannya akan membebaskan dirinya dari hasil perbuatannya.
<a id="C6-P03"></a>
Penjelasan tentang dusta demi kemudahan memberikan cara pengakuan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seseorang menyebut siapa dirinya, kapan dan di mana ia pernah berdusta, serta perkara yang dibicarakan, lalu menyatakan penyesalan dengan sungguh-sungguh. Apabila rincian sudah terlupa, tekad memperbaiki kesalahan dan tidak mengulanginya tetap diperlukan. Pengakuan dapat disampaikan di hadapan Buddha; apabila tidak ada rupang di rumah, sumber membolehkan menghadap langit dan menyampaikan maksud dengan tulus. Susunan kata membantu menyebut perbuatan dengan jelas. Yang diharapkan berubah tetap hati dan perilaku orang yang mengucapkannya, bukan sekadar ketepatan hafalan suatu rumusan.
<a id="C6-P04"></a>
Bentuk pengakuan yang sama diterapkan pada ucapan kasar dengan mengganti jenis perbuatannya. Hakim membedakan tingkat kerugian yang ditimbulkan, termasuk apakah sampai menyebabkan kematian, sehingga tidak semua perkara diberi hasil yang sama. Pada bagian akhir ia memperingatkan agar cara pertobatan tidak dipakai sebagai alasan melakukan kesalahan lagi: mengetahui larangan, melanggar dengan sengaja, lalu berulang kali meminta pengampunan justru menambah kesalahan. Karena itu, janji tidak mengulangi memiliki pekerjaan yang nyata. Orang perlu menghentikan tindakan yang telah diakui buruk dan memperhatikan saat ia hendak mengulangi pola yang sama dalam percakapan berikutnya.
Menghentikan kerugian dan menjalankan ikrar
<a id="C6-P05"></a>