Sepuluh kebajikan memperinci latihan tubuh, ucapan, dan batin. Tiga yang menyangkut tubuh ialah tidak membunuh, tidak mencuri, dan tidak melakukan pelanggaran seksual. Empat yang menyangkut ucapan ialah tidak berdusta, tidak mengadu domba, tidak berkata kasar, dan tidak mengucapkan kata-kata yang mengacaukan atau membangkitkan kekotoran batin. Tiga yang menyangkut pikiran ialah meninggalkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Istilah terakhir menunjuk ketidakmengertian yang menghalangi pengenalan terhadap baik-buruk perbuatan. Pembagian itu membuat aturan umum lebih mudah diperiksa dalam kehidupan: suara yang lembut, misalnya, masih dapat dipakai untuk menipu apabila niatnya hendak merugikan orang lain.
<a id="C3-P10"></a>
Contoh ucapan yang tampak sopan muncul ketika tuan rumah bertanya apakah tamunya sudah makan. Hakim membayangkan Ayu menjawab sudah, padahal belum: ia tidak ingin merepotkan tuan rumah, tetapi juga tidak ingin berutang budi. Keinginan kedua masih mengutamakan dirinya. Karena itu, ucapan tersebut dibedakan dari ketidakbenaran yang semata-mata dimaksudkan menyelamatkan makhluk, tanpa sedikit pun kepentingan pribadi. Buku menyebut yang pertama sebagai dusta demi kemudahan dan meminta pelakunya bertobat. Perbedaannya terletak pada niat yang benar-benar menyertai ucapan, bukan pada seberapa ramah kalimat itu terdengar atau seberapa kecil kebohongannya dianggap oleh orang lain.
Pengaruh yang terus berlangsung
<a id="C3-P11"></a>
Ucapan yang disimpan dalam tulisan, lagu, gambar, atau film dapat terus bekerja setelah percakapan selesai. Buku membicarakan karya yang mendorong keserakahan, kebencian, atau pelanggaran, termasuk pengaruhnya terhadap anak yang masih membentuk kebiasaan. Pembuat dan penyebar tidak selalu mempunyai peran yang sama; rincian tanggung jawab mereka dibahas dalam kasus-kasus pada bab kelima. Di sini yang perlu diperhatikan ialah kelanjutan ucapan: menyampaikan sesuatu kepada banyak orang juga memberikan sesuatu yang dapat mereka tiru. Penjelasan tentang anak yang mengikuti dusta dan adu domba orang tuanya membawa persoalan itu kembali ke rumah, tempat teladan lebih dahulu terlihat daripada nasihat.
<a id="C3-P12"></a>
Ketika membicarakan tubuh, penulis juga memakai jing, qi, dan shen, tiga istilah tradisional tentang sari kehidupan, daya kehidupan, serta kejernihan jiwa atau batin. Ketiganya disebut “tiga harta” dalam pembahasan tubuh, berbeda dari Tiga Permata Buddhis, yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Yin, yang, dan istilah tentang ginjal hadir dalam bahasa pemeliharaan diri yang sama. Nama-nama ini membantu mengenali penjelasan tokoh mengenai pengendalian nafsu dan latihan. Mereka tidak otomatis mempunyai padanan sebagai zat atau organ dalam pengertian kedokteran modern. Ayu juga membedakan pengalamannya memasuki keheningan dan berkunjung dengan bantuan Buddha dari kegiatan tubuh sehari-hari.
<a id="C3-P13"></a>
Sila dalam buku disampaikan kepada orang yang hidup di tengah keluarga maupun kepada praktisi yang mempunyai tanggung jawab keagamaan. Penerimaan sila dan kedudukan sebagai orang yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga menambah konteks ketika pelanggaran dibicarakan. Pada saat yang sama, hakim menegaskan berlakunya yinguo atas makhluk yang tidak mengenal atau tidak mengakui aturan itu. Dua hal tersebut perlu tetap jelas: kewajiban yang diterima dalam latihan dan hukum yang menurut buku mencakup semua kehidupan. Di dalam keluarga, keduanya berjumpa dengan kebutuhan yang sangat dekat—memberi makan, menjaga kepercayaan, dan tidak menggunakan kedudukan sendiri untuk menyakiti orang yang bergantung pada kita.