←书库

《阴律无情》文化导读 · ID

Bahasa Indonesia · 背景知识导读
设置
阅读设置书稿封面
18
正在读取版本…
校对

正文阅读

正文阅读

Pertolongan Ksitigarbha, atau Dizang, sering muncul bersama dua pendamping: Bhiksu Daoming dan Min Gong. Ketiganya disebut Tiga Suci Selatan. Mereka bukan tiga nama untuk satu tokoh, dan Diting, tunggangan Ksitigarbha, dikenali tersendiri. Dalam salah satu kunjungan, Daoming menyampaikan bahwa seorang anak telah membaca Sutra Ksitigarbha untuk ayahnya dan memohon bantuan. Min Gong meminta penjaga menghadirkan sang ayah. Daoming memegang permata berwarna merah muda sambil melafalkan mantra, dan rasa sakit para penghuni mereda untuk sementara. Tindakan itu terlebih dahulu memungkinkan orang yang semula hanya mampu menjerit untuk mendengar dan berbicara.

<a id="C7-P06"></a>

Ayah itu mengakui pelanggaran seksual dan fitnahnya terhadap seorang praktisi yang dihormati banyak orang. Karena iri, ia telah membuat orang menjauh dari Dharma. Di dunia manusia, anaknya yang telah dewasa belajar ajaran Buddha, tekun membaca Sutra Ksitigarbha, melakukan kebajikan, dan melimpahkan jasanya kepada sang ayah. Ketika berhadapan dengan Ksitigarbha, sang ayah sendiri menangis, mengakui kesalahan, dan berikrar berlatih serta melindungi Dharma. Apabila lahir sebagai manusia, ia ingin menjaga sila dengan murni dan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Kegiatan anak dan tanggapan ayah berada dalam satu kisah bantuan, tetapi keduanya tetap merupakan perbuatan masing-masing.

<a id="C7-P07"></a>

Sang ayah lalu teringat pernah menyebut nama Ksitigarbha dan mengulanginya dengan sungguh-sungguh. Cahaya batinnya menjadi terang, tubuhnya ringan, dan ia bergerak naik. Ksitigarbha menjelaskan beberapa sebab yang bertemu: akar kebajikan ketika dahulu menjaga sila, jasa serta bodhicitta anaknya, dan penyesalan tulusnya sekarang. Ia dapat keluar dari neraka, tetapi masih mempunyai akibat yang tersisa. Dalam kelahiran berikutnya sebagai perempuan, disebutkan perceraian dan kesulitan membuat orang mempercayai perkataan yang benar. Ia juga akan mempelajari Dharma. Masa depan tokoh ini menghubungkan pertolongan dengan latihan yang tetap perlu dijalankan, tanpa menjadikan setiap kehidupan perempuan sebagai penanda hukuman.

<a id="C7-P08"></a>

Ketiadaan keluarga yang membantu tidak berarti tidak ada lagi kemungkinan pertolongan. Hakim menyebut makhluk yang dahulu pernah menjaga sila, melakukan kebajikan, mendengarkan, atau menyebut nama Ksitigarbha meskipun hanya sesaat. Hubungan yang telah terbentuk itu dapat menjadi sebab Ksitigarbha datang tanpa diminta. Penyesalan yang tumbuh pada diri makhluk juga membuka kesempatan menerima ajaran. Sebagian pertolongan berupa pendampingan dan pengajaran yang belum segera mengakhiri penderitaan. Dengan demikian, kisah seorang anak yang menolong ayahnya menunjukkan salah satu jalan, bukan satu-satunya jalan. Perhatian diarahkan kepada sebab yang tersedia pada tiap makhluk dan bagaimana ia menanggapi kesempatan tersebut.

<a id="C7-P09"></a>

Bantuan dalam bentuk yang dikenal penerimanya muncul pada kisah seorang anak dari keluarga Katolik. Orang tuanya berdoa kepada Maria dan membantu orang miskin. Anak itu mengenali sosok yang datang sebagai Maria, membuat tanda salib, berterima kasih, dan menyesali kesalahannya. Hakim menjelaskan kepada Ayu bahwa sosok tersebut merupakan penampakan Guanyin, yang juga dikenal banyak umat di Indonesia sebagai Kwan Im. Penjelasan itu adalah penafsiran tokoh dalam Yinlü Wuqing, bukan penyamaan ajaran Katolik tentang Maria dengan ajaran Buddhis. Ketika anak tersebut mencampurkan ikrar membantu orang lain dengan ancaman menghukum diri apabila gagal, ia diminta meninggalkan ikrar buruk itu. Pertolongan diterangkan bersama penyesalan yang tulus dan pembenahan niatnya.

Mengenang dan meneruskan ajaran

载入中

版本信息