3. Dari pikiran menuju perbuatan
Sebelum tindakan dilakukan
<a id="C3-P01"></a>
Seseorang menyiapkan dua versi cerita untuk disampaikan kepada dua orang, dengan maksud membuat mereka saling membenci. Kata-katanya belum terucap, tetapi dalam penjelasan hakim tentang liangshe, ucapan yang memecah hubungan, sebab penderitaan sudah mulai terbentuk pada tahap merencanakan. Buku juga menyebut dua dewa pengiring, Jusheng Shen, yang mencatat kebajikan dan keburukan, termasuk gerak pikiran yang tersembunyi. Perhatian terhadap batin karena itu tidak menunggu orang lain melihat suatu tindakan. Yang diperiksa ialah niat yang sedang dipelihara, lalu bagaimana niat itu mendorong ucapan dan perbuatan tubuh ketika kesempatan datang.
<a id="C3-P02"></a>
Tubuh, ucapan, dan pikiran disebut tiga jalur perbuatan. Mengambil barang merupakan tindakan tubuh; mengatakan sesuatu yang tidak benar merupakan tindakan ucapan; merencanakan penipuan merupakan kegiatan batin. Pembagian itu membantu melihat satu peristiwa secara lebih lengkap. Sebuah pertengkaran dapat melibatkan niat mengadu domba, kata-kata yang diucapkan, dan tindakan yang menyusul setelah orang mempercayainya. Sebaliknya, upaya menjaga hubungan juga memerlukan niat dan ucapan yang sesuai. Penjelasan buku memberi perhatian khusus pada saat pikiran belum menjadi tindakan: pada saat itulah seseorang dapat mengenali arah yang buruk dan berhenti meneruskannya.
<a id="C3-P03"></a>
Mengamati niat tidak berarti hanya menanyakan apakah suatu pikiran pernah muncul. Dalam kisah-kisah pertobatan, perhatian berlanjut kepada cara seseorang memperlakukan pikiran itu: disadari dan dihentikan, atau dinikmati serta diulang sampai menjadi kebiasaan. Buku tetap menilai gerak batin dengan ketat, termasuk niat buruk yang belum dilaksanakan. Namun, ia juga memberi tempat bagi penyesalan yang segera timbul ketika niat itu dikenali. Kebiasaan menjelaskan mengapa perubahan tidak selesai dengan sekali mengucapkan janji. Orang perlu kembali memperhatikan pikirannya ketika menghadapi keadaan yang dahulu membuatnya tergoda, dan menjaga agar keinginan lama tidak kembali memimpin tindakannya.
<a id="C3-P04"></a>
Bagaimana suatu pengalaman masuk ke dalam proses itu? Penjelasan Buddhis memakai enam pintu indra: mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan batin. Kegiatan mengenali melalui masing-masing pintu disebut enam kesadaran: melihat, mendengar, mencium, mengecap, merasakan sentuhan, dan mengetahui objek pikiran. Melihat sesuatu dapat diikuti ketertarikan, keinginan mendengar lebih banyak, lalu dorongan mendekat atau menyentuh. Dalam kisah penghuni Guangyin Tian, hakim menguraikan rangkaian semacam itu melalui rupa, aroma, rasa, sentuhan, dan pikiran tentang makanan. Istilah enam pintu dan enam kesadaran menjelaskan pengalaman, sedangkan tubuh, ucapan, dan pikiran menjelaskan jalur perbuatan yang lahir darinya.