<a id="C2-P09"></a>
Menurut hakim, penghuni kawasan itu telah menjalani pemeriksaan atas catatan kehidupannya. Mereka tidak mempunyai karma yang mengharuskan hukuman neraka, tetapi juga tidak mempunyai kebajikan besar yang membawa mereka langsung menuju keadaan lebih baik. Makanan digambarkan dingin dan sangat ringan; cara menikmatinya disebut mengambil sari makanan melalui sentuhan. Kehidupan mereka berlangsung antara tiga ratus dan seribu lima ratus tahun, dengan kemungkinan berakhir lebih awal apabila latihan dan akar kebajikan memungkinkan kelahiran sebagai manusia atau dewa. Rincian ini berlaku untuk kawasan yang sedang dibahas. Hantu kelaparan, yang justru sukar memperoleh makanan, mempunyai keadaan lain.
<a id="C2-P10"></a>
Tidak semua tokoh melewati tempat-tempat itu dalam urutan yang sama. Dalam kisah kawasan warga biasa, Heibai Wuchang, para utusan penjemput, membawa yang meninggal ke ruang pengadilan sebelum penempatan ditentukan. Orang yang memperoleh izin lahir kembali setelah mendengar ajaran di Mingguang Chuzhuan Tang dibawa ke ruang pengadilan, menerima keputusan Yanwang, lalu meminum minuman Meng Po sebelum kelahiran baru. Kawasan tempat tinggal dan tempat persiapan kelahiran mempunyai fungsi berbeda. Kunjungan Ayu sendiri merupakan keadaan lain lagi: ia masih hidup dan menuturkan bahwa bantuan Buddha memungkinkannya datang, bertanya, kemudian kembali untuk mencatat apa yang dialaminya.
<a id="C2-P11"></a>
Meng Po bertugas menyediakan minuman bagi makhluk yang kembali lahir setelah masuk ke difu. Minuman itu membuat mereka melupakan kehidupan terdahulu dan tinggal bersama keluarga baru menurut karmanya. Hakim secara khusus mengatakan bahwa minuman Meng Po tidak ada di alam surgawi, Tanah Murni Barat, atau negeri Buddha lainnya. Ia juga menceritakan asal ikrar Meng Po: semasa hidup, ia ingin membantu manusia melupakan penderitaan dan memulai kehidupan baru. Kelupaan dalam kisah ini menyangkut ingatan tentang orang dan kejadian. Akibat perbuatan tetap ikut menentukan keadaan berikutnya, sehingga tidak mengingat suatu kehidupan tidak berarti seluruh hubungannya telah hilang.
<a id="C2-P12"></a>
Untuk menjelaskan keadaan sebelum masuk ke kandungan, Ayu mengutip bagian tentang memasuki rahim dari gulungan ke-56 Maharatnakuta Sutra, atau Da Bao Ji Jing. Kutipan itu memakai istilah zhongyou, keberadaan antara sebelum kelahiran. Ayah, ibu, dan anak disebut harus mempunyai karma yang saling berhubungan agar kehamilan terjadi. Dalam uraian kelahiran lelaki, makhluk tertarik kepada ibu dan menolak ayah; pada kelahiran perempuan, arahnya dibalik. Ini merupakan penjelasan kitab tentang proses kelahiran. Sesudah mengutipnya, Ayu berbicara tentang pertemuan keluarga: kehidupan yang datang sudah mempunyai hubungan dengan kedua orang tua dan patut dihargai.
<a id="C2-P13"></a>
Waktu dalam cerita-cerita ini juga perlu dibaca menurut tempat dan keterangan yang menyertainya. Umur warga alam roh berbeda dari umur manusia; masa hukuman tidak sama dengan masa menunggu suatu kelahiran. Dalam sebuah catatan lampiran, jie bahkan dijelaskan sebagai satu kali menjalani hukuman neraka, sementara perpindahan jie dikaitkan dengan satu kelahiran. Keterangan lokal itu tidak dapat begitu saja dipindahkan ke setiap penggunaan istilah kalpa dalam Buddhisme. Sesudah mengenali kehidupan mana yang sedang dibicarakan, pembaca dapat kembali kepada hal yang terjadi di dalamnya: makhluk masih berpikir, berbicara, bertindak, dan menerima akibat dari apa yang dilakukannya.