←书库

《阴律无情》文化导读 · ID

Bahasa Indonesia · 背景知识导读
设置
阅读设置书稿封面
18
正在读取版本…
校对

正文阅读

正文阅读

Tiandi menjelaskan asal kehidupan dengan perumpamaan pencatatan penduduk. Alam surgawi disebut sebagai yuanji, tempat asal, atau tianji, asal surgawi; kedudukan di dunia manusia dan neraka disebut fenji, pencatatan cabang. Perumpamaan itu memungkinkan pembaca memahami bahwa perpindahan tidak menghapus hubungan dengan asal. Tiandi juga membedakan makhluk yang turun dari alam surgawi dengan Buddha dan Bodhisatwa yang datang dari negeri lain karena ikrar menolong. Bagi makhluk yang telah merosot, jalan kembali dijelaskan melalui pertobatan, perbaikan perilaku, kebajikan, pemurnian batin, dan latihan. Sebutan asal surgawi sendiri belum menyatakan bahwa seseorang telah siap kembali ke sana.

<a id="C2-P05"></a>

Kisah tentang penghuni Guangyin Tian menjelaskan satu proses penurunan itu. Mereka datang dari alam surgawi yang tubuh penghuninya halus dan bercahaya, lalu tertarik pada difei, makanan bumi yang digambarkan menyerupai buah segar dan harum. Mereka menganggapnya tidak dimiliki siapa pun, sehingga mengambilnya tidak melanggar larangan mencuri. Akan tetapi, setelah makan banyak, tubuh mereka menjadi berat dan cahaya mereka meredup. Mereka tidak dapat terbang kembali, lalu menetap serta bertani di bumi. Penjelasan hakim membedakan tidak mencuri dari tidak mengalami akibat: keterikatan pada makanan bumi tetap mempunyai hasil, sekalipun satu jenis pelanggaran tidak terjadi.

<a id="C2-P06"></a>

Pada awalnya mereka masih menjaga sila dan hidup rukun. Hakim kemudian menceritakan keturunan mereka yang semakin kehilangan kemurnian batin, bertambah egois, dan mulai melakukan pelanggaran. Kisah tersebut menjadi salah satu pengantar kepada berbagai kemungkinan kelahiran. Enam jalannya ialah alam dewa, asura, manusia, hewan, roh yang mencakup hantu kelaparan, dan neraka. Asura dikenal dalam uraian Buddhis sebagai makhluk yang sering berseteru dengan para dewa; hantu kelaparan mengalami kesulitan memperoleh makanan dan minuman. Kata “makhluk” karena itu tidak hanya menunjuk manusia. Hewan dan penghuni alam lain juga termasuk dalam kehidupan yang mempunyai kelanjutan serta mengalami akibat perbuatan.

<a id="C2-P07"></a>

Tiga alam merupakan pembagian yang berbeda dari enam jalan kelahiran. Alam keinginan, atau kamadhatu, masih ditandai hasrat indrawi; alam berbentuk, rupadhatu, mempunyai keberadaan yang lebih halus; alam tanpa bentuk, arupadhatu, tidak mempunyai tubuh material. Alam surgawi sendiri tidak hanya satu tingkat. Penjelasan ini diperlukan ketika buku menyebut anak yang dibantu dapat menuju alam surgawi dengan tingkat berbeda, atau ketika membicarakan pembebasan dari tiga alam. Kelahiran yang lebih menyenangkan masih dapat berlangsung di dalam putaran kelahiran. Karena itu, istilah “naik ke surga” dan “bebas dari kelahiran berulang” tidak dapat dipertukarkan.

Kehidupan di alam arwah

<a id="C2-P08"></a>

Di bawah langit kelabu tanpa matahari, bulan, atau bintang, Ayu melihat deretan tempat berjualan. Para penghuni berjalan bebas dan berbelanja; ada orang dewasa, anak-anak, serta penjual makanan. Mereka tidak mempunyai tubuh berdaging seperti manusia. Kawasan warga biasa ini memperlihatkan bahwa difu, alam arwah beserta tata pengurusannya, lebih luas daripada diyu, tempat hukuman neraka. Di dalam difu ada tempat pemeriksaan, tempat tinggal, tempat mendengar ajaran, dan tempat persiapan kelahiran kembali. Menyamakan seluruh wilayah itu dengan neraka akan membuat pembaca keliru memahami mengapa sebagian penghuninya sedang berjual beli, bukan menjalani siksaan.

载入中

版本信息