Hakim alam baka berkata, “Pekerjaan ini sangat merusak suasana moral masyarakat, merusak moral, tata krama, dan tatanan hubungan antarmanusia, serta sangat memengaruhi sifat dasar manusia yang baik. Karena itu, Raja Alam Baka di neraka harus menghukum keras makhluk-makhluk yang melakukan kejahatan semacam ini. Namun, sejauh yang pejabat ini ketahui, para Buddha dan Bodhisattva berbelas kasih kepada makhluk-makhluk tersebut. Mereka menjelma sebagai manusia di tengah mereka untuk membimbing yang memiliki akar kebajikan agar berbalik menuju kebaikan.”
Untuk hari ini cukup sampai di sini. Terima kasih, hakim alam baka! Amitābha! Aku menaiki teratai putih untuk pulang terlebih dahulu.
Kali ini aku sangat gembira karena ternyata dapat bertemu Bodhisattva Kṣitigarbha yang Berikrar Agung di neraka. Seluruh tubuh Bodhisattva diselimuti cahaya keemasan, dan beliau juga melimpahkan berkah kepadaku. Kekuatan ikrarnya begitu luas, sungguh tak terbayangkan!
Setelah kembali ke dunia manusia, aku sudah sangat lelah. Karena setiap perjalanan ke neraka sangat menguras roh asalku serta energi vitalku, setelah pulang aku harus segera melafalkan mantra untuk memulihkannya.
Aku berharap para pembaca tidak membacanya sebagai sebuah novel, agar jerih payah Bodhisattva Kṣitigarbha tidak disia-siakan. Aku, Ayu, sekali lagi berterima kasih kepada kalian semua. Namo Bodhisattva Mahāsattva Kṣitigarbha yang Berikrar Agung!
7. Keadaan Sesungguhnya di Neraka Roda Terbalik di Alam Es dan Neraka Bunga Berwarna-warni dan Hutan Pedang yang Menghukum Perbuatan Menyimpang Berupa Inses
Aku, Ayu, bersujud menghormati Kṣitigarbha! Sungguh gembira dapat kembali menerima manfaat Dharma!
Kṣitigarbha memberikan pengajaran tentang lima sila kepadaku, Ayu. Menjaga lima sila dapat mempertahankan wujud manusia dan merupakan dasar menjadi manusia, sehingga tidak jatuh ke alam yang lebih rendah. Tampaknya sangat sederhana, tetapi banyak makhluk melanggarnya tanpa sadar. Kita sering mendengar orang-orang di sekitar berkata, aku tidak pernah membunuh orang, melakukan pembakaran yang mencelakakan, atau menyakiti orang lain; aku hanya warga biasa. Sebenarnya, pembunuhan dan pembakaran yang mencelakakan sudah merupakan pelanggaran melalui perbuatan jasmani yang sangat berat, yang mengakibatkan seseorang harus masuk neraka untuk menjalani balasan. Sekarang, mari kita dengarkan pengajaran penuh belas kasih dari Kṣitigarbha. Jika ada kesalahan dalam apa yang kudengar, itu adalah kesalahanku sendiri. Aku, Ayu, mengulangi secara ringkas pengajaran Bodhisattva sebagai berikut:
Pertama, tidak membunuh—dilarang merenggut nyawa makhluk berperasaan mana pun. Pola makan vegetarian yang murni merupakan dasar menjaga sila ini. Apa yang dimaksud dengan murni? Ajaran Sutra Śūraṅgama harus dijaga dengan ketat: apa pun yang berkaitan dengan hewan tidak boleh dikonsumsi atau digunakan. Artinya, semua makanan yang berkaitan dengan hewan tidak boleh dimakan. Misalnya susu sapi, mentega, telur, madu, dan segala sesuatu lainnya yang berkaitan dengan hewan harus dihindari. Banyak kosmetik mengandung bahan hewani dan juga tidak boleh digunakan. Ketika sakit kita minum obat; khususnya obat tradisional Tiongkok, banyak pula yang mengandung bahan hewani.
Kedua, tidak mencuri—mengambil suatu barang menjadi milik sendiri tanpa persetujuan orang lain adalah mencuri. Banyak orang memakai alat tulis milik perusahaan untuk keperluan pribadi, bahkan membawanya pulang untuk dipakai di rumah; atau menggunakan telepon perusahaan untuk urusan pribadi, mengisi daya ponsel di perusahaan, memakai mesin fotokopi dan faks perusahaan untuk mengurus dokumen pribadi, dan sebagainya. Jika tidak mendapat persetujuan perusahaan, semua ini termasuk pelanggaran sila tidak mencuri.