Bahasa Indonesia / 原书正文 / 阅读

《阴律无情》

正文阅读

设置
阅读设置书稿封面
18
正在读取版本…
正文阅读
章节目录

Aku kembali dengan menaiki teratai putih!

20. Balasan atas Aborsi dan Kota Tangisan Kematian Tak Wajar bagi Roh Bayi

Terima kasih atas berkah Buddha! Berangkat dengan menaiki teratai putih!

Amitābha!

Hakim Alam Baka! Hari ini Ayu ingin bertanya kepada Anda tentang buah balasan aborsi.

Hakim alam baka: “Aborsi dihukum berat di alam baka. Hukum alam baka menetapkan tiga jenis kebajikan tersembunyi: pertama, menyelamatkan nyawa manusia; kedua, membantu seorang janda mempertahankan kesuciannya; ketiga, melakukan kebajikan luhur tanpa diketahui orang lain. Dalam hukum sebab-akibat, kebajikan tersembunyi cukup untuk mengubah nasib. Dari zaman dahulu hingga sekarang, banyak contoh terkenal tentang orang yang menjadi pejabat tinggi dan orang terpandang di dunia manusia, serta memiliki keturunan yang terkemuka, semuanya berkat kebajikan tersembunyi. Di Renjie, perdana menteri pada masa Dinasti Tang, sewaktu masih muda pernah pergi ke ibu kota untuk mengikuti ujian. Ketika menginap di sebuah penginapan, ia digoda larut malam oleh pemilik penginapan, seorang janda cantik, sehingga timbul kewaspadaan dalam hatinya. Dengan hati yang teguh dan lurus, ia bukan saja menjaga diri agar tidak melakukan perilaku seksual yang menyimpang dari sila, tetapi juga menasihati janda cantik itu untuk mematuhi tata kesusilaan seorang perempuan. Dengan sungguh-sungguh ia mengajarkan kepada perempuan itu metode perenungan ketidakmurnian tubuh yang digunakannya sendiri untuk memadamkan nafsu seksual. Setelah melakukan perenungan tersebut, perempuan itu merasa malu dan menyesal, lalu mempertahankan kesetiaan dan keluhuran budinya seumur hidup. Di kemudian hari, justru karena tidak tergiur oleh godaan kecantikan yang datang tanpa dicari, nama Di Renjie termasyhur di seluruh negeri. Jika manusia di dunia dapat melewati ujian hubungan karma yang telah ditakdirkan dalam hidupnya, teguh memegang sila yang murni, dan menjaga keutuhan kepribadian yang luhur, Langit pasti tidak akan memperlakukanmu dengan tidak adil. Hukum alam baka juga pasti akan menganugerahimu jasa kebajikan tersembunyi yang besar dalam Kitab Kehidupan dan Kematian pribadimu, menambah berkah dan kebijaksanaanmu. Aborsi sesungguhnya berarti merampas kehidupan makhluk lain dan melanggar sila larangan membunuh. Anak itu dibunuh sebelum lahir, saat sifat bawaannya masih baik. Dosanya sama dengan membunuh orang tua dan melukai Buddha hingga berdarah, sekaligus menjalin hubungan buruk dengan anak itu. Seperti ungkapan, tanpa budi kebaikan maupun dendam, tidak akan menjadi keluarga.

Hubungan antara anak dan orang tuanya terdiri atas dua jenis: menagih utang dan membayar utang. Jika anak itu datang untuk membayar utang, tetapi kemudian timbul kebencian karena dibunuh, hubungan itu pun berubah menjadi hubungan buruk. Jika sejak awal anak itu datang untuk menagih utang, urusannya akan menjadi lebih merepotkan lagi. Hubungan buruk ditambah kebencian akan memperdalam sebab dan kondisi utang yang harus dibayar.

Ada tiga keadaan dalam aborsi. Pertama, ini bukan karena orang tua sengaja menggugurkan kandungan, melainkan karena berkah anak itu tidak mencukupi. Misalnya, janin meninggal dalam kandungan, hamil anggur, atau ibu hamil menderita penyakit, serta berbagai sebab lainnya yang mengakibatkan bayi tidak dapat lahir. Jika penyebabnya demikian, orang tua harus bertobat, melafalkan sutra untuk membantu pembebasannya, dan melimpahkan jasa kepadanya agar bayi itu dapat segera terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan.

Kedua, melakukan aborsi karena keadaan ekonomi yang buruk. Hal ini tidak diizinkan oleh hukum alam baka. Seseorang tidak boleh membunuh karena masalah ekonomi. Cara menangani persoalan sangatlah penting. Betapa pun sulitnya hidup di dunia manusia, keadaan itu masih sepuluh juta kali lebih baik daripada turun ke neraka untuk menerima balasan setelah melakukan aborsi. Ingatlah baik-baik! Mungkin saja bayi itu datang untuk membalas budi, dan setelah ia lahir, keadaan ekonomi keluarga akan berubah menjadi makmur atau berkecukupan. Tentu saja hal ini harus dilihat berdasarkan keadaan nyata setiap kasus. Tindakan ini akan mengurangi berkah selama hidup—kesehatan tubuh, karier, keberuntungan dalam keuangan, dan semuanya akan berkurang—serta mengharuskan pelakunya turun ke Neraka Hutan Pedang untuk menerima balasan selama 1.000 tahun. Jika belum menikah, ia harus terlebih dahulu pergi ke Neraka Cambuk dan Tongkat untuk menerima balasan selama 500 tahun. Kelak, ketika terlahir kembali sebagai manusia, ia masih harus melunasi sisa balasan atas pembunuhan itu. Misalnya, perempuan akan menderita penyakit ginekologis, dan laki-laki juga akan menderita penyakit pada sistem reproduksi.

Ketiga, keadaan yang sekarang paling banyak terjadi di dunia manusia. Banyak laki-laki dan perempuan yang belum menikah pergi melakukan aborsi setelah memiliki anak dalam kandungan. Perbuatan ini membawa balasan paling berat. Berkah mereka berkurang selama hidup, dan setelah usia mereka berakhir, mereka terlebih dahulu masuk ke Neraka Cambuk dan Tongkat untuk menerima balasan selama 800 tahun, lalu masuk ke Neraka Hutan Pedang untuk menerima balasan selama 2.000 tahun. Dosa perempuan yang melakukan aborsi lebih berat daripada laki-laki, karena perempuanlah yang pada akhirnya memutuskan untuk melakukan aborsi. Karena itu, dosanya sedikit lebih berat. Sebaliknya, jika laki-laki meminta perempuan melakukan aborsi, tetapi perempuan itu akhirnya mempertahankan janinnya dan melahirkan anak tersebut, satu perbuatan buruk akan dicatat atas nama laki-laki itu, sedangkan satu jasa kebajikan tersembunyi akan dicatat atas nama perempuan itu. Jika kemudian laki-laki itu bertobat, merawat anak tersebut dengan baik, dan sungguh-sungguh menasihati manusia di dunia agar tidak melakukan aborsi, karma buruk karena menghasut orang lain melakukan aborsi ini dapat dihapuskan. Ayu, apakah kamu ingin berkunjung ke sana?”

载入中

版本信息