Saat itu, Hakim menyuruh salah satu yakṣa pelaksana hukuman datang untuk menjelaskan pelanggaran apa yang telah dilakukan arwah-arwah di neraka ini sehingga mereka jatuh ke Neraka Es Membeku, Pencabutan Lidah, dan Penghancuran Tubuh untuk menjalani hukuman.
Yakṣa itu meredakan raut wajahnya yang ganas, lalu berkata kepadaku, “Arwah perempuan yang tadi Ayu lihat itu, semasa hidupnya, karena iri hati, berdusta dan memfitnah seorang praktisi yang menjaga sila dengan murni. Ia sengaja merusak upaya praktisi itu menyebarkan Dharma yang benar. Karena dustanya pula, banyak orang mempercayainya, dan banyak di antara mereka kehilangan keyakinan mendasar untuk mempelajari ajaran Buddha, berbuat baik, dan menjaga sila. Justru karena dusta inilah, setelah usianya berakhir, ia jatuh ke neraka ini untuk menjalani hukuman. Raja Yama, Penguasa Alam Baka, sangat murka dan menjatuhkan hukuman satu kalpa kepadanya di neraka ini. Setelah masa hukumannya di sini habis, ia masih harus pergi ke neraka lain untuk terus menerima akibat karmanya.
Adapun arwah laki-laki itu, semasa hidupnya, bergerak dalam usaha periklanan medis. Dengan berdusta, dalam waktu singkat ia memperoleh banyak uang dengan cara yang tidak bermoral. Banyak orang di alam manusia, karena mempercayai iklan dustanya, mengalami kerusakan pada berbagai fungsi organ dalam tubuh. Dalam kasus yang lebih ringan, mereka menderita gangguan kronis fungsi organ dalam seumur hidup. Dalam kasus berat, fungsi tubuh mereka merosot tajam dalam waktu singkat, bahkan ada yang meninggal. Namun, orang-orang itu sama sekali tidak menyadari bahwa mereka telah disesatkan oleh iklan medisnya. Berkah dan usia arwah laki-laki itu dikurangi oleh alam baka. Ia mengalami kecelakaan lalu lintas dan jatuh ke neraka lebih awal untuk menerima hukuman.
Semua yang jatuh ke neraka ini semasa hidupnya telah berdusta: memfitnah orang yang menyebarkan Dharma yang benar; berdusta dengan niat jahat hingga merugikan nyawa dan harta orang lain; berdusta untuk menghasut orang lain melakukan berbagai pelanggaran sila; menjual berbagai barang yang merusak tubuh dan batin orang di alam manusia dengan dusta; atau dengan dusta menipu orang lain untuk mengambil hartanya, merenggut kesuciannya, dan berbagai karma buruk lainnya. Terlalu banyak kasus roh bersalah karena dusta di sini untuk disebutkan satu per satu. Yang baru saja kusebutkan hanyalah pelanggaran yang kini cukup banyak membawa orang jatuh ke neraka ini.”
Hakim melanjutkan, “Singkatnya, segala dusta yang sengaja diucapkan semasa hidup, selama merugikan tubuh, batin, nyawa, atau kesehatan orang di alam manusia, akan membawa pelakunya jatuh ke neraka untuk menerima hukuman yang sesuai. Semoga mereka yang berjodoh membaca tulisan ini membangkitkan ketulusan untuk sungguh-sungguh memperbaiki kesalahan, lalu saling mengajak orang lain melafalkan nama Buddha, dengan bersandar pada berkah kekuatan Buddha untuk menghapus karma hitam dusta yang telah diperbuat dahulu. Jagalah selalu kemurnian pikiran dalam tubuh dan batin, serta ajarkanlah kepada orang lain agar sama sekali tidak berdusta. Setiap kali berdusta, cahaya bawaan kita akan sedikit meredup. Jika cahaya bawaan orang di alam manusia meredup, hal-hal yang tidak sesuai harapan akan sangat mudah terjadi, berbagai penyakit akan datang, bahkan bermacam-macam bencana akan menyusul satu demi satu.
Baiklah, Ayu, untuk hari ini kunjunganmu kita cukupkan sampai di sini. Sebentar lagi aku harus menghadiri rapat. Datanglah lagi besok jika keadaan memungkinkan!” “Amitābha! Terima kasih, Hakim! Aku akan segera pulang untuk menulis. Setelah tulisan ini selesai, aku akan datang lagi menyita waktu Anda.”
Aku pulang dengan menaiki teratai putih!
15. Hukuman Menyakitkan atas Ucapan Sia-sia — Neraka Komputer Kaca, Tempat Ular Berduri Melilit Lidah hingga Putus
Aku bersyukur atas berkah daya Buddha! Aku berangkat dengan menaiki teratai putih!
“Amitābha! Ayu merangkapkan kedua telapak tangan dan bersujud memberi hormat kepada Hakim!”