Jika Ayu ingin bertanya di mana engkau hidup pada kehidupan sebelumnya, apa identitasmu, apakah engkau laki-laki atau perempuan, dan apakah engkau melakukan perbuatan besar yang baik, selama dalam kehidupan demi kehidupan engkau selalu terlahir di Jambudvīpa Selatan, Chenghuang dapat menjelaskan dengan terang berbagai identitas serta karmamu dalam kelahiran kembali yang terus berulang itu. Tentu saja, bukan berarti apabila engkau tidak terlahir di Jambudvīpa Selatan, Chenghuang tidak mengetahuinya. Hanya saja, apabila engkau terlahir di wilayah lain, hal itu berada di luar cakupan yang diurus dan dicatat Chenghuang.
Chenghuang di alam baka ditugaskan oleh Langit ketika alam baka pertama kali dibangun. Sebentar lagi Ayu dapat mewawancarainya sendiri untuk menjernihkan beberapa keraguan di dalam hati. Sekarang aku akan membawamu mengunjungi Kediaman Chenghuang, yang terletak di ujung paling timur alam baka.”
Ayu berkata, “Terima kasih, Hakim! Mohon kesediaan Hakim menunjukkan jalan.”
Betapa senangnya! Sebentar lagi aku dapat bertemu dengan Chenghuang kuno yang dikisahkan dalam legenda. Aku memikirkan pertanyaan apa yang akan kuajukan saat menghadapnya. Sungguh malu, aku hanyalah manusia biasa yang rendah, tanpa kebajikan atau laku yang baik, dan tidak mempunyai banyak hal untuk ditanyakan. Lebih baik aku bertanya tentang penguasa tertinggi alam baka, Raja Yama! Mengapa Raja Yama, Penguasa Tertinggi Alam Baka, harus menjadi raja di neraka? Semua orang merasa takut ketika melihat Raja Yama. Sebentar lagi pertanyaan dalam hatiku akan terjawab. Kami hampir tiba! Sebuah bangunan besar bergaya zaman dahulu di depan perlahan-lahan tampak di mata. Kami pun perlahan turun ke tanah yang datar.
Kediaman Chenghuang yang berwarna cokelat tua dan bercorak kuno tampak di hadapan kami. Penjaga pintunya bukan yakṣa, melainkan dua prajurit berpakaian zaman dahulu yang memegang senjata. Melihat Hakim, kedua prajurit itu tersenyum dan menyambutnya dengan memberi hormat.
Mereka sedang membungkuk kepada Hakim sambil berkata, “Dewa Pintu Kiri menghadap Hakim! Dewa Pintu Kanan menghadap Hakim!”
Dewa Pintu Kiri berkata, “Tuan Chenghuang telah memberi tahu kami bahwa Hakim akan membawa seorang manusia bernama Shangguan Yuhua, penulis buku Hukum Alam Baka yang Tak Kenal Ampun, yang mengenakan tanda kewenangan alam baka, untuk mengunjungi Tuan Chenghuang. Tampaknya orang di samping Hakim ini adalah Shangguan Yuhua dari dunia manusia itu!” Kedua dewa pintu serentak melirik tanda kewenangan yang tergantung pada tubuhku.
Hakim berkata, “Tak perlu sungkan! Orang ini memang Shangguan Yuhua, Ayu, umat awam penulis Hukum Alam Baka yang Tak Kenal Ampun. Mohon Dewa Pintu Kiri menunjukkan jalan untuk menghadap Tuan Chenghuang.”
Wajah kedua dewa pintu tidak terlalu garang. Mereka tergolong bertubuh kekar, seperti prajurit tinggi besar pada zaman dahulu. Kediaman Chenghuang ini sangat luas, dan juga merupakan sebuah kediaman setingkat pejabat alam baka. Di sekelilingnya terlihat beberapa petugas berpakaian seperti Dewa Tanah berjalan. Ketika melihat Hakim, mereka semua tersenyum dan memberi hormat.
Ketika Ayu melihat ke depan, tampak dua gerbang besar, satu di kiri dan satu di kanan. Di sebelah kiri tertulis, “Kebajikan tersembunyi membawa berkah yang panjang”; di sebelah kanan tertulis, “Kebajikan yang tampak membawa berkah sesaat”. Di tengah bagian depan bangunan tertera tiga aksara besar, “福德宫” (Istana Berkah dan Kebajikan).