Bahasa Indonesia / 背景知识导读 / 阅读

《阴律无情》文化导读 · ID

正文阅读

设置
阅读设置书稿封面
18
正在读取版本…
正文阅读

4. Tanggung jawab dalam hubungan dengan sesama

Merawat keluarga

<a id="C4-P01"></a>

Setiap kali Ayu membawa makanan untuk kakeknya, lelaki tua itu segera menghabiskannya. Ia dahulu mengira kakeknya sekadar menyukai makanan yang dipilihnya. Setelah kakek meninggal pada usia sembilan puluh dua tahun, penjelasan hakim membuatnya melihat kunjungan-kunjungan itu secara berbeda: bibinya, yang bersikeras merawat sang kakek demi menguasai hartanya, sering menahan makanan dan memakinya. Kakek memilih diam agar keluarga tidak bertengkar. Dalam kisah ini, hakim menghargai kesabarannya sekaligus menyatakan beratnya kesalahan orang yang menelantarkannya. Tinggal serumah dan menyebut diri sebagai pengasuh belum menjamin bahwa orang lanjut usia benar-benar menerima perawatan.

<a id="C4-P02"></a>

Xiao, yang lazim diterjemahkan sebagai bakti kepada orang tua, berawal dari pengenalan terhadap pengasuhan yang pernah diterima. Seorang anak belum sanggup menyediakan makanan, pakaian, atau perlindungan bagi dirinya sendiri. Ia tumbuh karena ada orang yang memenuhi kebutuhan itu berulang kali. Dalam ajaran buku, mengingat jasa tersebut perlu menjadi tindakan: menyediakan keperluan hidup, merawat ketika lemah, dan menjaga sikap hormat. Ucapan kasar, pemukulan, dan penelantaran dinilai berat karena mengenai orang yang dahulu menopang kehidupan anak. Kasih kepada keluarga karena itu dibicarakan melalui keadaan orang yang dirawat, bukan hanya melalui niat baik yang dinyatakan perawatnya.

<a id="C4-P03"></a>

Tanggung jawab keluarga berjalan dari pihak orang dewasa pula. Ksitigarbha menegur seorang perempuan yang telah menyakiti anak suaminya dari perkawinan terdahulu. Anak itu kehilangan ibu kandung dan memerlukan perhatian yang dapat mengurangi kesedihannya; ia semestinya diperlakukan seperti anak sendiri. Di tempat lain, anak-anak digambarkan meniru kebiasaan orang tua berdusta dan mengadu domba. Perawatan karena itu mencakup kebutuhan tubuh dan contoh perilaku. Istilah tentang hubungan keluarga serta masyarakat—lima hubungan, lima kebajikan tetap, dan delapan kebajikan—memberi nama bagi kewajiban seperti bakti, kesetiaan, kesopanan, dan dapat dipercaya. Nama-nama itu memperoleh arti melalui cara orang benar-benar memperlakukan sesamanya.

<a id="C4-P04"></a>

Mengapa orang-orang tertentu bertemu sebagai keluarga? Buku memakai bahasa membalas budi, membalas dendam, menagih utang, dan melunasi utang untuk menjelaskan hubungan yang dibawa dari kehidupan sebelumnya. Hubungan yang semula baik dapat memburuk karena perlakuan sekarang; hubungan yang menyimpan permusuhan dapat semakin berat apabila ditambah kekerasan. Penjelasan ini tidak menghilangkan kewajiban merawat. Justru karena hubungan belum selesai, tindakan dalam keluarga masih turut membentuk kelanjutannya. Kasih juga dapat melampaui keluarga sekarang. Kutipan Fanwang Jing, Sutra Jaring Brahma, mengingatkan bahwa makhluk lain pernah mempunyai hubungan sebagai orang tua dalam kelahiran-kelahiran terdahulu, sehingga perhatian kepada kehidupan tidak berhenti pada kerabat yang dikenali saat ini.

载入中

版本信息