Hakim alam baka berkata, “Semua makhluk yang mengunggah ulang juga melakukan pelanggaran yang sama dan harus masuk ke neraka ini untuk menjalani hukuman. Tentu saja kesalahan mereka sedikit lebih ringan daripada pembuatnya. Situs internet dapat meracuni anak-anak yang polos dan belum mengerti dalam jumlah tak terhitung dalam waktu singkat, serta merusak dengan parah perkembangan batin mereka. Perkembangan batin setiap orang ketika masih kecil merupakan dasar bagi perilakunya saat dewasa. Namun, orang sekarang sudah memiliki kegemaran buruk seperti ini pada usia yang begitu muda. Sebagaimana dinyatakan dalam Sutra Kṣitigarbha, ‘Jika bertemu kondisi yang buruk, keburukan bertambah dari pikiran ke pikiran.’ Kebiasaan menjadi sifat yang melekat. Setelah dewasa, sulit sekali membangkitkan niat bertobat untuk memperbaiki kesalahan, kecuali jika mendapat nasihat dan bimbingan dari seorang pembimbing Dharma yang luhur. Di dunia sekarang, teknologi komputer terus diperbarui setiap hari. Karena kurangnya pendidikan mengenai sebab-akibat karma bagi anak-anak, sudah ada anak di bawah umur yang tak terhitung jumlahnya melihat produk pornografi semacam ini di situs internet setiap hari. Para pembuat produk pornografi dan makhluk yang mengunggah ulangnya harus bertanggung jawab atas semua sebab-akibat karma ini. Karena itu, alam baka secara khusus membangun neraka seperti ini untuk menghukum berat makhluk-makhluk tersebut.”
Aku melihat makhluk di neraka ini berjalan telanjang menuju komputer-komputer. Semua yang mereka lihat di dalam komputer adalah produk pornografi, sedangkan yang kulihat justru alat penyiksaan berbentuk komputer. Komputer itu tampak merah membara dan memancarkan cahaya. Ketika roh bersalah mendekatinya dengan penuh nafsu, komputer tersebut mengeluarkan kait merah membara yang langsung mengait dan mencabut kedua mata roh itu. Ada pula jarum es listrik yang menusuk mereka hingga seluruh tubuh berdarah, mulai dari kepala, lalu terus ke bawah sampai memenuhi seluruh tubuh. Pokoknya pemandangannya sangat mengerikan! Siksaan kejam seperti ini masih harus ditanggung tanpa batas waktu yang pasti, sampai produk pornografi itu lenyap sepenuhnya dari dunia. Sungguh penderitaan yang tak terukur dan tak berbatas! Lebih baik tinggalkan dulu neraka ini! Terlalu mengerikan untuk dilihat!
Hakim alam baka melanjutkan penjelasannya, “Ayu, sebelum Hukum Alam Baka yang Tak Kenal Ampun diterbitkan sebagai buku, kamu harus lebih dahulu mengumumkan isinya di situs internet agar makhluk yang memiliki jalinan karma dapat saling memberi tahu secara berantai dan mengunggah ulangnya, sehingga tercapai hasil berupa pemurnian hati manusia. Bagi makhluk yang mengunggah ulangnya, satu jasa kebajikan besar akan dicatat dalam buku kebaikan dan keburukan pribadi mereka di alam baka, setara dengan jasa kebajikan berbakti kepada orang tua, tanpa perbedaan.
Di antara segala kejahatan, pelanggaran seksual adalah yang terdepan; di antara segala perilaku baik, bakti kepada orang tua adalah yang utama. Tuanku, Raja Alam Baka, paling menghargai dan memuji orang-orang di alam manusia yang berbakti kepada orang tua. Cukup sampai di sini hari ini. Kembalilah dahulu.”
Aku merangkapkan kedua telapak tangan dan berpamitan kepada hakim alam baka! Aku kembali menaiki teratai putih.
15. Menyingkap Tabir Misteri Kehidupan di Kawasan Rakyat Biasa Alam Baka
Sejak Hukum Alam Baka yang Tak Kenal Ampun mulai dipublikasikan, beberapa orang mengira tulisan ini dihasilkan melalui fuji atau kerasukan roh. Karena itu, di sini perlu kutegaskan sekali lagi bahwa setelah duduk bermeditasi dan memasuki ketenangan, pikiranku harus bebas dari pikiran yang mengganggu agar aku dapat memusatkan daya batin! Kemudian, dengan mengandalkan berkah kekuatan Buddha, dalam keadaan sangat sadar aku menaiki teratai putih dan tiba di neraka dalam sekejap. Oleh sebab itu, isi buku Hukum Alam Baka yang Tak Kenal Ampun telah berkali-kali diverifikasi melalui kunjungan pulang-pergi ke neraka, sehingga nilainya sebagai rujukan sangat tinggi! Jika ada kesalahan, semuanya karena pencapaian latihanku terbatas sehingga aku salah mendengar. Namun, niatku untuk bekerja bagi para Buddha dan Bodhisattva serta memegang sila demi manfaat semua makhluk benar-benar tulus!
Karena itu, buku Hukum Alam Baka yang Tak Kenal Ampun sama sekali berbeda dari karya yang ditulis melalui praktik rakyat berupa fuji, kerasukan roh, qiling, atau mimpi. Para pembaca sekalian dimohon memperhatikan hal ini.
Syukur atas berkah kekuatan Buddha! Aku berangkat menaiki teratai putih.
Aku merangkapkan kedua telapak tangan untuk memberi hormat kepada hakim alam baka!