Dewa Tanah di dalam setiap rumah dan di depan pintunya termasuk hantu yang lurus dan memiliki berkah serta kebajikan yang lebih kecil. Sebenarnya, orang di alam manusia sendiri yang meletakkan papan nama Dewa Tanah untuk dipuja, lalu menyebut mereka Dewa Tanah rumah dan Dewa Tanah depan pintu. Sesungguhnya mereka adalah hantu yang memang sudah tinggal di rumah itu sejak awal, dan umur mereka lebih panjang daripada manusia. Jika manusia tidak menempati rumah tersebut, hantu itu tidak mendapat persembahan apa pun. Ketika manusia memberikan persembahan, hantu itu pun membalas budi dan dengan sendirinya melindungi keselamatan mereka saat pergi dan pulang.
Sekarang orang di alam manusia sering menjual dan membeli rumah. Hantu tidak akan mengikuti orang yang pergi; yang berganti hanyalah pemilik rumah di alam manusia. Mereka bukan Dewa Tanah yang diutus oleh Langit. Yang diutus oleh Langit ialah Dewa Tanah wilayah, Dewa Tanah pusat perbelanjaan, dan Dewa Tanah gedung, yakni gedung tinggi tempat manusia sekarang tinggal. Di pintu masuk gedung-gedung itu ada seorang Dewa Tanah yang dikirim oleh pemerintahan alam baka. Dewa Tanah gedung berada di bawah pengelolaan Dewa Tanah wilayah. Yang berada di pintu masuk pusat perbelanjaan dan toko adalah Dewa Tanah yang dikirim oleh pemerintahan alam baka. Ini karena orang di pusat perbelanjaan dan toko lebih banyak, sehingga diperlukan Dewa Tanah yang memiliki berkah dan kebajikan lebih besar untuk menerima persembahan dupa. Baiklah, Ayu, untuk hari ini cukup sampai di sini. Pulanglah dahulu.”
Amitābha! Ayu bersujud memberi hormat kepada hakim alam baka! Aku kembali dengan menumpang teratai putih.
Sebelum pulang, aku pergi menyapa Dewa Tanah penjaga wilayah di dekat situ.
Aku berkata, “Amitābha! Halo, Kakek Dewa Tanah!”
Kakek Dewa Tanah berkata, “Ayu! Sudah larut, cepatlah pulang dan berhati-hatilah!”
Aku berkata, “Terima kasih, Kakek Dewa Tanah. Apakah Anda tidak bosan duduk di sini setiap hari?”
Kakek Dewa Tanah berkata, “Sekarang aku jauh lebih sibuk daripada dahulu!”
Aku berkata, “Beberapa waktu lalu ketika lewat, aku tidak melihat Anda duduk di sini?”
Kakek Dewa Tanah berkata, “Yang kumaksud dengan dahulu ialah sebelum Ayu lahir, yaitu 150 tahun yang lalu. Waktu itu aku tidak sesibuk sekarang. Kehidupan percintaan orang sekarang rumit dan banyak masalah; berbagai urusan seperti sakit, kematian, dan kelahiran juga jauh lebih banyak daripada dahulu.”