“Di sekeliling setiap orang ada banyak penagih utang karma, baik yang pernah dekat maupun yang bermusuhan dengannya, yang menunggu kesempatan membalas. Jika seseorang melakukan hal-hal yang melanggar hukum alam baka, itu berarti ia memberi lebih banyak kesempatan kepada para penagih utang karma di sekelilingnya untuk membalas. Bahkan dewa-dewa lurus pelindung Dharma pun tidak akan mencampuri hukum sebab dan akibat alam baka, terlebih lagi membiarkan pelanggaran sila. Dewa-dewa lurus pelindung Dharma yang melaksanakan hukum alam baka memberi ganjaran dan hukuman dengan adil kepada semua makhluk berperasaan, dengan hati penuh belas kasih.”
“Ketika lahir, setiap orang membawa berbagai karma baik dan buruk dari kehidupan terdahulu. Asalkan ia terus menjaga Lima Sila dan menjalankan Sepuluh Kebajikan tanpa melanggar sila, sekalipun banyak penagih utang karma berada di sekelilingnya, mereka hanya dapat mengikutinya dan tidak mempunyai kesempatan membalas. Lalu, mengapa sebagian orang melakukan banyak pelanggaran sila, seperti berdusta, melakukan perilaku seksual yang menyimpang dari sila, tenggelam dalam pesta dan minuman keras, serta menjalani berbagai kehidupan yang melanggar hukum alam baka, tetapi masih menikmati kekayaan dan kedudukan? Itu karena mereka mempunyai karma baik yang besar dari kehidupan-kehidupan lampau dan berkahnya belum habis.”
“Ketika karma baik kuat, seseorang akan menerima berbagai berkah dari karma baiknya; urusannya lancar, hatinya senang dan bahagia. Jika orang di alam manusia terus melanggar sila tanpa berbuat baik dan menghimpun berkah, berkah karma baiknya akan habis karena terus dinikmati. Setelah manisnya habis, datanglah pahit. Jika seorang pemancing tidak mempunyai karma baik atau perbuatan baik lainnya, pembunuhan yang terus dilakukannya dalam kehidupan ini akan menambah berat karma hitamnya. Ditambah karma buruk dari kehidupan lampau, para penagih utang karma nonmanusia di sekelilingnya dapat mengganggunya dengan hebat melalui kerasukan, menimbulkan berbagai malapetaka yang datang tanpa diduga, bahkan merenggut nyawanya.”
“Karena waktu terbatas, penjelasan kita cukupkan dahulu sampai di sini. Ayu, ikutlah denganku!”
Ayu: “Baik, Hakim!”
Hakim: “Neraka ini dibangun sebagai tambahan pada tahun 1995 menurut waktu alam manusia. Sebagian besar roh bersalah di dalamnya berasal dari Timur.”
Dengan cepat kami mendarat di suatu kawasan luas yang terasa agak mirip kawasan industri besar di alam manusia. Petunjuk jalan harus diperhatikan dengan jelas; jika tidak, mudah tersesat. Di sini ada banyak pintu, tanpa yakṣa di depannya. Pada setiap pintu tertulis nama nerakanya. Semua pintu berlapis itu terkunci rapat. Ternyata di sini ada lagi sebuah kawasan neraka baru. Kepalaku pening! Di alam manusia saja segala sesuatu sudah berubah-ubah dalam sekejap, sekarang bahkan neraka pun membangun begitu banyak tambahan. Sampai kapan aku baru dapat selesai mengunjungi semuanya?!
Hakim berkata, “Hari ini kita hanya mengunjungi ruangan ketujuh di bangunan ketujuh, Neraka Arwah Kesepian Memancing Ikan Sendirian di Laut Pedang. Alam baka kekurangan petugas. Di seluruh tempat ini tidak ada penjaga pintu. Mari langsung kita tekan bel pintunya!”
Ayu: “Baik, Hakim!”
Mari kita cari! Ini bangunan pertama; kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, lalu ketujuh. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, ruangan ketujuh. Sudah terlihat! Huruf Tionghoa tradisional bergaya modern memancarkan cahaya hijau gelap: Neraka Arwah Kesepian Memancing Ikan Sendirian di Laut Pedang. Aku maju dan menekan bel pintu.