“Karena harta keluarga terus bertambah, aku terus meningkatkan lingkungan tempat tinggal kami, pindah ke kawasan hunian orang kaya. Akhirnya, kami sekeluarga yang terdiri atas tiga orang pindah ke sebuah vila besar seluas beberapa ribu kaki persegi, dengan beberapa pelayan di rumah. Namun, keadaan baik itu tidak bertahan lama. Belum sampai tiga bulan setelah kami pindah ke vila besar itu, putraku mulai menjadi sangat peka dan penakut. Sepanjang hari ia ketakutan sambil mengatakan bahwa ada orang yang hendak memukulnya, padahal sama sekali tidak ada siapa pun di rumah yang hendak memukulnya. Istriku menderita sakit pinggang dan depresi. Setiap hari ia pun meluapkan kemarahan, mencurigai aku berselingkuh, dan sebagainya. Pelayan di rumah terus berganti.”
“Istri dan putraku sama-sama menemui dokter yang menangani masalah kejiwaan, minum obat, dan mendapat suntikan. Namun, keadaan mereka bukan membaik, malah semakin parah. Kemudian, begitu ada sedikit saja bunyi mendadak di rumah, putraku langsung ketakutan dan bersembunyi. Putraku yang dahulu polos dan lincah menjadi sangat takut ketika melihat cahaya terang, dan menyukai tempat yang gelap. Agar sinar matahari tidak langsung masuk ke dalam rumah, semua tirai harus ditutup. Sementara itu, karena hubungan suami istri kurang baik dan aku selalu dimaki di rumah, suasana hatiku pun buruk. Aku mulai setiap hari mengajak teman minum dan berkaraoke untuk mengusir kejenuhan. Di tempat karaoke, aku juga menjalin hubungan di luar nikah dengan seorang gadis, membuatnya hamil dua kali, dan menghasutnya untuk menggugurkan kandungan.”
“Aku mulai menjalani hari-hari dengan berfoya-foya, minum, dan bersenang-senang dengan perempuan. Kadang-kadang aku bahkan tidak pulang, tetapi di dalam hati aku masih memikirkan putraku. Pada suatu kesempatan, ketika mabuk, demam, lalu pingsan, aku dibawa ke rumah sakit dengan ambulans. Begitu masuk rumah sakit, pemeriksaan menunjukkan kanker hati stadium akhir. Setelah mengalami berbagai rasa sakit dan siksaan selama tiga bulan, aku meninggalkan dunia tanpa daya dalam penderitaan. Huhuhu… Aku bahkan belum memahami apa sebenarnya yang telah terjadi ketika, dalam keadaan linglung, Kepala Sapi dan Muka Kuda menyeretku dengan rantai besi ke neraka.”
Raja Yama, Penguasa Tertinggi Alam Baka, menggebrak meja dan berkata dengan sangat murka, “xxx, apakah engkau menyadari kesalahanmu? Engkau terlahir di dunia manusia dengan membawa berkah yang berlimpah. Engkau tidak memanfaatkannya dengan baik dengan terus berbuat baik dan memupuk berkah. Justru engkau menyalahgunakan berkah itu dengan menjalankan usaha yang membunuh serta merenggut nyawa, bahkan menghasut orang lain untuk melakukannya. Engkau sangat merusak pikiran dan pandangan orang, serta memutus hati welas asih mereka.”
“Karma buruk terberatmu dalam kehidupan ini adalah membunuh makhluk hidup dengan memancing. Bawa dia terlebih dahulu ke Neraka Arwah Kesepian Memancing Ikan Sendirian di Laut Pedang untuk menjalani hukuman selama 10.000 tahun. Setelah semua toko perlengkapan memancing di dunia manusia yang dibuka karena engkau tutup usaha, barulah engkau boleh keluar untuk menghadapku lagi, lalu aku akan mengadili pelanggaranmu yang lain.”
Saat itu, roh bersalah tersebut begitu ketakutan hingga berteriak meminta pertolongan. Sambil berlutut, ia bertanya kepada Raja Yama, Penguasa Tertinggi Alam Baka, “Toko perlengkapan memancingku hanya beroperasi selama delapan tahun. Mengapa aku harus dihukum 10.000 tahun di neraka? Bahkan aku harus menunggu semua toko perlengkapan memancing berhenti beroperasi. Apa hubungan toko-toko lain itu denganku? Aku juga bukan pemegang sahamnya.”
Raja Yama, Penguasa Tertinggi Alam Baka, melanjutkan dengan marah, “Di antara toko-toko perlengkapan memancing yang kini ada di dunia manusia, selama sebuah toko dibuka karena dipengaruhi iklan dan promosimu, maka dalam perhitungan sebab akibat menurut hukum alam baka ini engkau harus menanggung lima puluh persen daya karmanya, dan pemilik toko itu juga menanggung lima puluh persen. Jika pemilik toko kemudian membuka cabang kedua, engkau menanggung tiga puluh persen, sedangkan pemilik toko menanggung tujuh puluh persen. Tanpa pengaruh iklanmu, toko-toko yang menimbulkan karma pembunuhan itu tidak akan dibuka. Apabila sebuah toko dibuka bukan karena tertarik oleh iklanmu, alam baka pun tidak akan sembarangan mencatatnya sebagai tanggunganmu.”
“Para petugas penting di alam baka semuanya mendasarkan diri pada pemeliharaan sila. Orang yang memelihara sila memiliki cahaya tubuh; semakin murni kebajikan silanya, semakin tinggi jabatannya. Sebenarnya, sekarang engkau seharusnya menjadi orang yang sangat kaya dan berkedudukan baik di dunia manusia, sehat tubuhnya, serta makmur keluarga dan usahanya. Dalam salah satu kehidupanmu dahulu, engkau pernah menjadi orang yang sangat baik, yang mengumpulkan berkah besar melalui pemberian dana. Kondisi bagi buah kebaikan itu matang dalam kehidupan ini. Karena itu, apa pun bidang usaha yang engkau jalani dalam kehidupan ini akan berkembang dan makmur, serta menarik hubungan baik dengan banyak orang. Harta keluargamu seharusnya dua kali yang engkau miliki sekarang. Tak disangka, setelah terlahir dalam kehidupan ini, engkau terus memancing. Bahkan setelah menyelesaikan sekolah, engkau menjalankan usaha grosir hasil laut. Semua uang yang engkau peroleh dari usaha grosir hasil laut itu didapat dengan mengurangi berkahmu.”
“Usaha grosir hasil laut dengan cepat menghabiskan setengah berkahmu dalam kehidupan ini. Alam baka sudah berkali-kali mengirim petunjuk lewat mimpi, membuatmu bermimpi dimakan makhluk laut atau dikejar-kejar untuk dibunuh oleh mereka. Mimpi-mimpi itu adalah petunjuk yang memperingatkanmu agar berhenti, menjalankan usaha yang benar, dan tidak lagi menyia-nyiakan berkah dengan melakukan karma buruk pembunuhan. Namun, engkau sama sekali tidak menyadarinya, tidak merenung, dan tidak memiliki hati yang bertobat. Engkau terus memperbesar keangkuhan diri serta racun keserakahan. Engkau pun tidak berbuat baik atau menghimpun kebajikan, malah terus mempromosikan dan membuka toko perlengkapan memancing yang menimbulkan pembunuhan. Secara tidak langsung, engkau mendorong perkembangan usaha restoran pemancingan di dunia manusia. Utang sebab akibat menurut hukum alam baka ini harus engkau lunasi sedikit demi sedikit melalui penderitaan di neraka alam baka.”
“Seandainya engkau menjalankan suatu usaha yang benar di dunia manusia, asalkan tidak melakukan kejahatan besar, sekalipun tidak secara khusus berbuat baik, menekuni Jalan, dan memupuk berkah, dengan berkah yang engkau miliki sekarang engkau seharusnya masih menjalani kehidupan yang bahagia dan menyenangkan di dunia manusia. Engkau pun tidak akan sampai jatuh ke neraka untuk menanggung penderitaan tanpa batas dan tanpa tepi seperti sekarang.”