Raja Yama, Penguasa Tertinggi Alam Baka: “Yakṣa Arwah Kesepian!”
Yakṣa Arwah Kesepian: “Hadir!”
Raja Yama, Penguasa Tertinggi Alam Baka: “Segera bawa dia ke Neraka Arwah Kesepian Memancing Ikan Sendirian di Laut Pedang untuk dihukum dan melunasi seluruh utang karmanya!”
Roh bersalah itu berkata, “Huhuhu… Sekarang aku sungguh menyesali betapa besar keserakahanku dahulu. Aku terus ingin menambah harta keluarga, tetapi caraku salah. Nona, Anda harus menuliskan semua yang kukatakan. Semoga setelah membacanya, teman-temanku segera memperbaiki diri, tidak memancing lagi, dan tidak meneruskan usaha toko perlengkapan memancing.”
“Nona, anggaplah ini permohonanku kepada Anda! Asalkan Anda menuliskan apa yang baru saja kukatakan, setelah membacanya teman-temanku pasti akan tahu bahwa akulah yang jatuh ke neraka dan menderita. Pada waktu itu, mereka semua mengetahui urusan keluargaku serta sebagian pikiranku. Mereka pasti akan percaya bahwa yang Anda tulis benar-benar terjadi, dan setelah membacanya mereka pasti akan berubah. Asalkan mereka segera memperbaiki diri dan tidak lagi melakukan karma buruk membunuh makhluk hidup dengan memancing, masa penderitaanku di neraka juga dapat berkurang! Huhuhu… Tak seorang pun menginginkan dirinya kelak mengalami penderitaan neraka tanpa batas dan tanpa tepi. Huhuhu… Aku sungguh ingin meninggalkan tempat ini. Sepuluh ribu tahun, betapa panjangnya! Huhuhu…”
Ayu berkata, “Tuan, aku tahu kota yang Anda sebutkan itu. Karma pembunuhan di kota itu sangat berat. Ternyata Anda turut memikul karma hitam yang begitu berat. Menulis buku Hukum Alam Baka yang Tak Kenal Ampun dengan baik adalah pekerjaanku. Aku pasti akan menuliskan seluruh isi yang baru saja Anda sampaikan secara lengkap. Tuan, Anda sebaiknya melafalkan nama Buddha. Daya Buddha akan dengan welas asih memberkati Anda. Aku juga akan melimpahkan jasa kebajikan dari penulisan Hukum Alam Baka yang Tak Kenal Ampun kepada Anda, agar Anda segera lepas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan.”
Roh bersalah itu berkata, “Huhuhu… Pada saat kita berbicara seperti sekarang, meskipun tubuhku menderita, aku masih dapat menahan rasa sakit dengan sekuat tenaga untuk melafalkan nama Buddha. Tetapi, sebentar lagi hukuman dimulai kembali. Rasa sakit meningkat tajam tanpa jeda, kepalaku pusing, dan kesadaranku tidak jernih. Aku sama sekali tidak mampu melafalkannya. Huhuhu… Semoga semua orang di dunia tidak pernah memancing dan tidak jatuh ke neraka untuk dihukum. Jangan sekali-kali menderita seperti aku: sesudah mati masih harus menjalani hukuman neraka yang ujungnya tak terlihat! Huhuhu…”
Hakim berkata, “Baiklah! Karena waktu terbatas, dan mengingat hari ini engkau sangat kooperatif dalam memberikan bahan kepada Ayu untuk menulis Hukum Alam Baka yang Tak Kenal Ampun, serta mengucapkan tekad baik agar semua orang di dunia tidak pernah memancing dan tidak jatuh ke neraka untuk dihukum, baiklah! Sekarang aku mencatat satu perbuatan berjasa yang baik bagimu. Engkau diizinkan mendengarkan ajaran Bodhisattva Kṣitigarbha satu kali dan beristirahat sejenak dari penderitaan.”
Yakṣa Arwah Kesepian berkata, “Baik, Hakim! Akan kubawa dia sekarang.”
Ayu berkata, “Hakim, bolehkah aku bertanya, mengapa tuan itu dapat segera pergi mendengarkan ajaran Bodhisattva Kṣitigarbha? Roh-roh bersalah yang dahulu kuwawancarai menderita lebih berat dan merasa jauh lebih takut daripadanya. Mengapa Hakim tidak mencatat satu perbuatan berjasa yang baik bagi mereka?”