Dalam Sutra Avataṃsaka, Buddha berkata, “Putra-putra Buddha! Bodhisattva Mahāsattva memiliki sepuluh jenis ketekunan yang gigih. Apakah kesepuluhnya? Yaitu tekun dan gigih dalam membimbing semua makhluk; tekun dan gigih dalam mendalami segala dharma; tekun dan gigih dalam memperindah dan memurnikan semua dunia; tekun dan gigih dalam mempraktikkan segala yang dipelajari para Bodhisattva; tekun dan gigih dalam melenyapkan keburukan semua makhluk; tekun dan gigih dalam menghentikan segala penderitaan di tiga alam kelahiran buruk; tekun dan gigih dalam menghancurkan semua pasukan Māra; tekun dan gigih dalam berikrar menjadi mata yang jernih bagi semua makhluk; tekun dan gigih dalam memberi persembahan kepada semua Buddha; serta tekun dan gigih dalam membuat semua Tathāgata bersukacita. Itulah kesepuluhnya. Jika para Bodhisattva berdiam teguh dalam Dharma ini, mereka akan memperoleh kesempurnaan pāramitā ketekunan tertinggi Tathāgata.” Aku merasa masih memiliki kekurangan dalam ketekunan belajar dan berlatih, sehingga benar-benar harus melipatgandakan upaya untuk maju.
Lihat pula Sutra Mahāratnakūṭa · Sidang Piṭaka Bodhisattva, tempat Buddha berkata, “Tanpa rasa ngeri, tanpa rasa gentar, tanpa rasa terkejut, tanpa rasa takut. Membangkitkan daya kewibawaan yang teguh dan gagah berani dalam empat hal. Dalam gerbang Dharma yang halus dan mendalam dari Piṭaka Bodhisattva, meningkatkan ketekunan. Tidak menanggalkan, tidak meninggalkan, tidak menjauh, tidak berpisah. Menyempurnakan keyakinan dan pemahaman yang kuat serta tajam, keyakinan dan pemahaman yang teguh, kesabaran yang teguh, serta daya upaya benar yang teguh. Śāriputra, Aku akan menjelaskan kepadamu perumpamaan sebagai upaya terampil mengenai kesabaran yang teguh dan daya upaya benar yang teguh, agar para Bodhisattva memperoleh kesabaran yang teguh dan daya upaya benar yang teguh, serta menjalankan jalan Bodhisattva tanpa memedulikan tubuh dan nyawa.” Sungguh memalukan, baru beberapa kali berturut-turut pergi ke neraka aku sudah merasa lelah. Aku merasa tidak pantas menerima budi besar pengajaran para Buddha dan Bodhisattva. Aku harus terus berusaha menjaga sila dengan baik, berlatih dengan tekun, dan membalas budi para Buddha dan Bodhisattva. Aku juga berharap semua orang dapat mencapai daya yang tak berbatas, tekun dengan gagah berani, tekun dalam daya upaya benar, serta menjaga sila laksana mutiara yang bercahaya.
Sebelum berangkat, kudapati ada tambahan sekuntum teratai di bawah kakiku. Terima kasih kepada para pelindung Dharma! Para Buddha dan Bodhisattva selalu penuh belas kasih! Hari ini, dengan tambahan sekuntum teratai, kecepatannya jauh lebih tinggi. Dalam sekejap aku sudah tiba di neraka. Aku memberi hormat kepada hakim alam baka, yang sudah menungguku.
Hari ini aku ingin bertanya kepada hakim alam baka tentang buah karma menulis buku cabul, mencetak buku cabul, menjual buku cabul; buah karma para pemilik usaha yang membuat film pornografi dan memproduksi cakram pornografi; buah karma para pemeran film pornografi; serta buah karma menjual barang untuk membantu aktivitas seksual yang menyimpang dari sila, seperti obat perangsang dan sebagainya.
Hakim alam baka segera membawaku mengunjungi sebuah neraka bernama “Neraka Yanhua Fangun”. Sambil berbincang, kami sudah mulai merasakan suasana yang berbeda, sangat negatif; lebih tepatnya, suatu hawa nafsu seksual. Seluruh neraka sudah dipenuhi hawa Yin yang tak habis-habisnya, tetapi di neraka bagian ini hawa nafsu seksual jauh, jauh lebih berat daripada hawa Yin, sampai menutupi hawa Yin. Ada pula bau amis busuk yang sangat pekat. Jika bukan untuk menceritakannya kepada semua orang, aku benar-benar tidak ingin melihatnya.
Kami sudah tiba. Lagi-lagi terdengar jeritan keras dan erangan kesakitan. Di sini ada banyak roh laki-laki dan perempuan. Mereka tidak saling berbincang, berkomunikasi, menyapa, atau menghibur. Bahkan sekadar berkata, “Apakah kamu menderita?” pun tidak, karena semuanya terus-menerus menjalani balasan neraka.
Kulihat salah satu roh berada di atas kursi yang sangat kecil, menekan kursi dengan kedua tangannya lalu berdiri terbalik, yaitu kepala di bawah dan kaki di atas. Posisinya sangat ekstrem! Kemudian ia jatuh ke tanah dan mati akibat benturan, lalu hidup kembali dan mengulanginya. Hakim alam baka berkata bahwa ini adalah buah karma karena semasa hidup gemar menulis gerakan-gerakan dalam buku cabul, yakni melakukan perilaku seksual yang menyimpang dari sila dengan perempuan terbalik dan laki-laki berdiri tegak.
Ada satu roh yang terus menopang tubuhnya di tanah dengan satu tangan. Kulihat ia sudah begitu lelah sampai berkeringat dan gemetar. Begitu ia berhenti, seekor burung raksasa langsung terbang turun dan memakannya. Setelah itu ia hidup kembali dan mengulangi hukuman tersebut. Ternyata ini adalah hukuman bagi orang-orang yang semasa hidup gemar menggambarkan gerakan yang sangat ekstrem dalam perilaku seksual yang menyimpang dari sila, misalnya mencambuk dan mengejar rangsangan indrawi.
Ada satu roh yang terus berputar-putar di tanah tanpa henti. Begitu ia berhenti, banyak serigala raksasa segera datang mencabik-cabik dan memakannya. Ini adalah buah karma yang diterimanya karena semasa hidup gemar meracik obat halusinogen untuk membangkitkan nafsu seksual.
Ada satu roh yang dihukum terus berdiri dengan satu kaki, seolah sedang melakukan gerakan hubungan seksual. Begitu ia berhenti, seekor burung besi besar segera menukik dan menabraknya hingga mati. Kemudian, setelah tertiup angin, ia hidup kembali dan mengulangi hukuman itu. Ini juga merupakan buah karma menulis buku pornografi.