Ada satu roh yang terus-menerus memakan obat. Ketika berhenti, ia segera muntah hebat hingga setengah mati, lalu dipaksa memakannya lagi. Ini adalah buah karma yang diterimanya karena semasa hidup secara khusus meneliti dan memproduksi obat perangsang seksual serta obat pembangkit gairah.
Ada satu roh yang memegang alat penyiksaan menyerupai obor berbentuk tabung lampu. Ia terus membakar alat kelaminnya sendiri sampai alat kelamin itu hangus dan hancur. Setelah tertiup angin, bagian itu pulih, lalu siklus penderitaan tersebut berulang lagi. Ini adalah balasan karena semasa hidup gemar menjual alat bantu untuk aktivitas seksual yang menyimpang dari sila.
Ada dua roh yang bersama-sama memegang beberapa ular kecil yang dapat bergetar, menjalankan hukuman di sisi alat kelamin mereka sendiri. Keduanya mengalami rasa sakit hebat karena alat kelamin mereka remuk dan rusak. Semasa hidup, mereka berdua adalah pemilik usaha yang khusus menjual produk seksual.
Ada satu roh yang duduk di kursi sangat kecil, tetapi runcing dan panas, menulis sesuatu di atas meja yang dibakar sampai merah membara dan dapat menyemburkan api. Aku mencoba menangkap pikirannya. Ternyata ia sedang memikirkan cara menulis buku cabul. Ketika ia hendak menulis, kedua tangannya langsung terbakar habis. Setelah itu ia hidup kembali dan kembali menjalani siksaan api ini. Ini juga merupakan buah karma menulis berbagai buku cabul.
Di sebelah sini ada beberapa roh laki-laki dan perempuan yang tampaknya sangat menikmati buku-buku cabul itu (karena khayalan keliru yang terbalik, pikiran mereka dipenuhi nafsu seksual, sehingga yang mereka lihat adalah buku cabul, sedangkan yang kulihat adalah sesuatu yang menyerupai selembar kertas putih). Di sini ada sebuah mesin cetak yang tampak seperti komputer raksasa. Ketika mereka ingin mencetak buku cabul, mesin raksasa itu menyedot mereka ke dalamnya. Mereka semua digiling melewati mesin hingga menjadi daging lumat dan bubur daging. Darah memercik ke mana-mana, mereka meraung dan menjerit kalang kabut. Penderitaan yang teramat dahsyat itu benar-benar tidak dapat dilukiskan maupun ditanggung. Dalam sehari mereka harus menjalani hukuman sepuluh juta kali. Sampai di sini aku tidak sanggup melanjutkan melihatnya lagi; aku sendiri sudah merasa luar biasa tersiksa. Inilah buah karma yang sangat berat yang harus ditanggung karena semasa hidup membuat film pornografi dan memproduksi cakram pornografi.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu kembali bertanya kepada hakim alam baka, “Sebenarnya berapa tahun roh-roh bersalah ini harus menjalani balasannya?”
Hakim alam baka menjawab, “Sulit dikatakan berapa lama mereka harus menerima balasan. Pada dasarnya, barulah setelah semua buku cabul yang mereka tulis dan cetak, film pornografi yang mereka buat, cakram pornografi, obat perangsang, serta obat penambah keperkasaan untuk menunjang nafsu seksual yang mereka produksi lenyap seluruhnya dari dunia manusia, mereka memiliki kesempatan untuk keluar dari neraka. Sekalipun terlahir kembali di dunia manusia, mereka pasti menerima balasan berupa keadaan yang amat rendah dan hina. Hanya Buddha dan para Bodhisattva yang dapat menjelaskan secara tepat berapa lama sebenarnya mereka harus menjalani hukuman. Neraka ini kini telah diperluas dengan banyak lapisan baru dan berbagai macam hukuman tambahan. Dahulu wilayahnya tidak seluas ini. Sekarang, dengan kemajuan teknologi, pencetakan dan produksi barang-barang yang berkaitan dengan perilaku seksual yang menyimpang dari sila berlangsung sangat cepat dan dalam jumlah yang mencengangkan. Toko-toko seks juga sangat banyak dibuka di dunia manusia. Orang yang melakukan kejahatan dan melanggar sila lalu dijebloskan ke neraka untuk menderita benar-benar tak terhitung jumlahnya. Sesungguhnya, neraka merupakan cerminan dunia manusia. Jika di dunia manusia muncul hal baru yang melanggar sila, neraka segera diperluas untuk memenuhi kebutuhan akan balasan tersebut. Setelah usia hidup mereka berakhir, makhluk-makhluk yang melakukan kejahatan datang ke sini untuk menerima balasan yang menyakitkan.”
Aku berkata, “Bukankah hukuman tanpa batas waktu ini sama menyakitkannya dengan Neraka Tanpa Jeda?” Hakim alam baka berkata, “Penderitaan di sini masih jauh, jauh lebih ringan daripada penderitaan di Neraka Besar Tanpa Jeda! Sebab, buku-buku dan barang-barang yang berkaitan dengan perilaku seksual yang menyimpang dari sila ini dapat mencelakakan makhluk yang tak terbatas dan tak terhitung jumlahnya. Terutama situs pornografi di komputer: bahkan anak-anak polos tanpa cela dengan tubuh bersifat Yang murni pun tercemar. Hal ini tidak dapat ditoleransi ataupun diampuni menurut hukum alam baka. Kuberitahukan kepadamu, seperti yang tadi dikatakan, bila pemeran dipaksa membuat film pornografi, balasannya lebih ringan, yakni 100 tahun. Namun, mereka harus menjamin bahwa mereka tidak akan mengulanginya lagi, serta bertobat atas karma buruk mereka. Jika demi uang seseorang hanya membuat satu film dan sesudah itu tidak membuatnya lagi, ia menerima balasan selama 1.000 tahun. Jika kemudian ia sendiri membeli seluruh cakram pornografi itu untuk dibakar dan dimusnahkan, serta bertobat dengan sungguh-sungguh, hukumannya dapat dikurangi 500 tahun. Sutradara yang membuat film pornografi atau orang yang mengedarkan maupun memproduksi cakram pornografi akan masuk ke neraka ini setelah usia hidupnya berakhir untuk menerima balasan. Mereka baru dapat keluar setelah film dan cakram pornografi tersebut lenyap sepenuhnya. Pekerja lain yang terlibat akan dijebloskan ke neraka ini untuk menerima balasan selama 50.000 tahun. Semua orang yang menulis, mencetak, atau menjual buku cabul, serta semua pemilik usaha, pemeran, sutradara, dan pekerja yang terkait dengan pembuatan film atau cakram pornografi, tanpa kecuali akan dikurangi berkah dan umurnya semasa hidup. Untuk setiap buku cabul atau film, berkah mereka berkurang dan umur mereka dipotong satu tahun.”
Aku kembali bertanya kepada hakim alam baka, “Bagaimana balasan bagi orang yang membuka situs untuk menjual cakram atau rekaman pornografi, atau menyediakannya untuk diunduh oleh umum, baik berbayar maupun gratis?” Hakim alam baka berkata, “Prinsipnya sama. Mereka juga dijebloskan ke neraka ini. Barulah setelah cakram pornografi yang mereka jual lenyap selamanya dari dunia manusia dan situs pornografi terkait juga ditutup secara menyeluruh, mereka dapat terbebas dari balasan neraka. Setelah kembali, kamu harus sungguh-sungguh mengingatkan semua orang agar menaati hukum dan tata kesopanan serta menjalankan sila, sehingga terhindar dari hukuman Langit! Untuk hari ini cukup sampai di sini. Silakan pulang dahulu dengan teratai. Datanglah lagi pada hari lain.”
Yang ingin kujelaskan kepada kalian, para pembaca, adalah bahwa ketika mengunjungi neraka untuk mengetahui keadaan di dalamnya, kesadaranku pergi dalam keadaan sadar dengan mengandalkan kekuatan Buddha. Aku tidak pergi dalam mimpi, dan pengetahuan ini juga tidak diperoleh melalui metode fuji seperti yang digunakan Tiandao, Yiguandao, dan sebagainya. Aku sendiri adalah seorang murid Tiga Permata yang telah berlindung dalam agama Buddha, menjalani pola makan vegetarian secara tetap, dan menaati Lima Sila. Namaku Ayu. Setiap kalimat yang kusampaikan di atas adalah benar. Kupersembahkan pelimpahan jasa ini agar semua makhluk mencapai Kebuddhaan.