17. Kedua Kalinya Menghadiri Persidangan secara Langsung—Melihat Sendiri Dua Pejabat Pemberi Ganjaran atas Kebaikan dan Penghukum Kejahatan yang Disebutkan dalam Kitab-Kitab Kuno
Belakangan ini aku, Ayu, terus mengunjungi neraka bagi perilaku seksual yang menyimpang dari sila. Di antara seluruh neraka, neraka ini menempati wilayah yang paling besar dan paling luas. Dari sini terlihat bahwa perilaku seksual yang menyimpang dari sila merupakan masalah yang amat besar dan sangat serius di dunia manusia sekarang. Buddha yang memiliki kebijaksanaan agung telah sejak lama meramalkan dan menjelaskan masalah ini secara terperinci dalam banyak sutra. Beliau juga memberi tahu kita dengan sangat terperinci bagaimana menuntaskan keterikatan mendasar yang kita bawa sejak lahir dan terus membelenggu kita ini. Kita semua seharusnya lebih banyak mempelajari sutra, memahami dari mana perilaku seksual tak terkendali berasal dan bagaimana mengatasinya. Sutra-sutranya terlalu banyak untuk disebutkan seluruhnya sekaligus. Sebagai contoh:
Dalam Sutra tentang Kepunahan Dharma yang Disabdakan Buddha dikatakan: “Tiada moralitas, perilaku seksual menjadi liar, keruh, dan kacau; laki-laki dan perempuan tidak dibedakan…… Karena kalpa hampir berakhir, hari dan bulan menjadi semakin singkat, umur manusia semakin pendek, dan pada usia empat puluh rambut sudah memutih. Laki-laki mengumbar nafsu seksual, kehabisan sari vital, dan meninggal sebelum waktunya; ada pula yang hidup sampai enam puluh tahun. Umur laki-laki pendek, umur perempuan panjang: tujuh puluh, sembilan puluh, atau bahkan seratus tahun.”
Sutra Empat Puluh Dua Bab yang Disabdakan Buddha mengatakan: “Hasrat lahir dari kehendakmu, kehendak lahir dari pikiran; bila kedua batin sama-sama hening, tiada rupa dan tiada pula tindakan.”
Dalam Sutra Śūraṅgama tentang Puncak Agung Buddha, Sebab Rahasia Tathāgata, Makna Tuntas Praktik dan Pencapaian, serta Sepuluh Ribu Laku Para Bodhisattva, hal ini dijelaskan dengan lebih terang: “Jika batin makhluk-makhluk dalam enam alam kehidupan di berbagai dunia bebas dari nafsu seksual, mereka tidak akan mengikuti kesinambungan kelahiran dan kematian itu. Engkau melatih samādhi dengan tujuan terbebas dari kekotoran batin duniawi; jika batin yang bernafsu seksual tidak disingkirkan, engkau tidak dapat terbebas dari kekotoran batin itu. Sekalipun memiliki banyak kecerdasan dan telah mencapai pemusatan meditasi, jika tidak memutus nafsu seksual, engkau pasti jatuh ke jalan Māra……”
Dalam sutra, Buddha dengan sabar dan penuh perhatian berulang kali memberi tahu semua orang bahwa perilaku seksual tak terkendali berasal dari pikiran terbalik dalam batin sendiri. Kehendak lahir dari pikiran; setiap orang memiliki benih yang membuatnya berputar dalam kelahiran dan kematian ini. Buddha mengajarkan bahwa dorongan nafsu seksual harus kita putuskan, baik dalam tubuh maupun batin. Sutra mengatakan: “Aku menciptakan karma tidak baik, bagaikan tiang kayu hangus; dalam kehidupan kini aku tak memiliki kemuliaan, dalam kehidupan lain pun demikian. Di dalam rumah aku tak memiliki kemuliaan, di luar pun demikian; sebab yang buruk melahirkan karma buruk, karenanya aku masuk ke alam-alam buruk. Dalam kehidupan mendatang aku menanggung penderitaan, tak tahu di mana aku akan tinggal; seluruh dewa mendengar suara tangis dan ratapanku; tiada yang menolong dan melindungiku, aku pasti masuk ke neraka.”
Semoga semua orang yang memiliki jalinan sebab dan kondisi untuk membaca tulisan ini dapat memiliki keyakinan benar dan perhatian benar yang utuh, menjalankan Dharma yang benar, serta terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan.
Aku bersyukur atas berkah daya Buddha! Aku berangkat dengan menaiki teratai putih!
Aku, Ayu, merangkapkan telapak tangan untuk memberi hormat kepada hakim alam baka!
Hakim alam baka berkata dengan serius, “Hari ini, dua roh bersalah, seorang laki-laki dan seorang perempuan, datang ke balai pengadilan untuk diadili: yang laki-laki adalah perantara prostitusi, sedangkan yang perempuan adalah muncikari.”