Kṣitigarbha memberikan ajaran, “Ketika roh laki-laki ini meninggalkan kehidupan berumah tangga pada kehidupan lampaunya, meskipun silanya tidak sepenuhnya murni, ia juga pernah menjaga sila bhiksu dengan murni. Justru karena berkah itulah ia terlahir di dunia manusia dalam keluarga kaya dan terpandang selama tujuh kehidupan, serta memiliki anak-anak yang berbakti. Namun, dalam kehidupan ketujuh, setelah melanggar sila mengenai perilaku seksual yang menyimpang dari sila dan melakukan fitnah, ia jatuh ke neraka untuk menjalani hukuman. Kali ini ia dapat naik ke alam yang lebih tinggi karena putranya yang berbakti berbuat baik dan menghimpun kebajikan untuknya di dunia manusia, membangkitkan bodhicitta agung, serta melimpahkan jasa dengan daya yang besar. Ditambah lagi, roh laki-laki itu sendiri benar-benar tulus bertobat. Para Buddha dan Bodhisattva tidak akan meninggalkan satu makhluk pun yang dapat diselamatkan.”
Kṣitigarbha juga berkata bahwa setelah terlahir di dunia manusia, roh laki-laki ini masih harus menerima sisa buah karma dari perilaku seksual yang menyimpang dari sila dan fitnahnya. Ia akan terlahir sebagai perempuan, menerima buah karma berupa perceraian, dan ketika berkata benar, tidak seorang pun akan mempercayainya. Namun, setelah roh laki-laki ini terlahir sebagai perempuan, ia pasti akan mempraktikkan Dharma Buddha. Jika ia dapat membina diri dengan keyakinan teguh, melindungi Dharma sejati, dan melaksanakan janji yang dibuatnya di neraka, tubuh rohnya akan berangsur-angsur kembali bercahaya.
Selanjutnya kami melihat roh kedua di neraka ini, seorang perempuan. Petugas hantu membawa roh perempuan itu keluar. Guru Dharma Daoming melafalkan mantra, dan permata itu kembali memancarkan cahaya untuk memberikan adhiṣṭhāna kepadanya. Kondisi tubuh roh perempuan ini agak lebih buruk, sehingga Guru Dharma perlu melafalkan mantra sedikit lebih lama. Setelah menerima adhiṣṭhāna melalui daya Dharma, roh perempuan itu mulai memperoleh kembali kemampuan berbicara.
Ia berkata bahwa semasa hidup, tutur katanya kepada semua orang selalu pedas dan kejam. Ia terutama iri kepada anak yang dilahirkan mantan istri suaminya. Ia sering memukul dan memaki anak itu hingga terluka dan berdarah, membiarkannya kelaparan sampai pingsan, lalu memukulinya hingga tewas. Ia juga tidak berbakti kepada ibu mertuanya. Selain memperlakukannya dengan buruk, ia juga memukul kepala ibu mertuanya, terkadang hingga kepala sang mertua pecah dan berdarah. Demi kerukunan keluarga, ibu mertuanya bahkan tidak berani mengatakan bahwa ia dipukul oleh menantunya. Akhirnya, ia pun membuat perempuan tua itu meninggal karena amarah dan tekanan batin. Perempuan tua dan anak itu mengadu di balai pengadilan Raja Yama. Setelah akhir hayatnya, selain dijatuhi hukuman di Neraka Jeritan, ia juga dijatuhi hukuman di neraka-neraka lain. Sekarang ia baru saja tiba di Neraka Jeritan dan sudah menderita luar biasa. Bagaimana ia akan melewati hari-hari selanjutnya!
Roh perempuan itu juga berlutut memohon agar Kṣitigarbha menyelamatkannya keluar dari neraka. Kṣitigarbha memberikan ajaran kepadanya, “Jika dahulu sudah tahu akan berakhir seperti sekarang, mengapa melakukan semua itu? Ini adalah putusan Raja Yama. Di antara segala perilaku baik, bakti menempati urutan pertama. Raja Yama paling menghormati orang-orang yang berbakti di dunia manusia. Bahkan merawat orang tua dengan penuh bakti seumur hidup pun tidak cukup untuk membalas budi mereka dalam membesarkan kita. Bagaimana mungkin berani memperlakukan mereka dengan kasar? Tidak berbakti adalah dosa yang tidak diampuni oleh hukum alam baka. Engkau sepatutnya bertobat dengan sungguh-sungguh. Langit memiliki kebajikan mengasihi kehidupan. Anak dari mantan istri suamimu telah kehilangan ibu kandungnya; itu sudah meninggalkan kekosongan besar dalam batinnya. Seharusnya engkau memperlakukannya dengan baik sebagai anak kandungmu sendiri, merawatnya dengan sepenuh perhatian untuk mengisi kekosongan batinnya. Namun, engkau justru sanggup memukuli dan memaki anak mantan suamimu, membuatnya kelaparan hingga pingsan, lalu memukulinya sampai mati. Memukuli anak kecil yang sama sekali tidak bersenjata hingga tewas sungguh menunjukkan hati yang keji. Sebagaimana sebabnya, demikian pula akibatnya. Engkau harus bertobat dengan sungguh-sungguh. Hanya dirimu sendirilah yang dapat menolongmu.”8
Roh perempuan itu berlutut dengan penuh penderitaan untuk memohon ampun, lalu berkata, “Bodhisattva, selamatkan aku! Aku bersujud kepada-Mu. Semasa hidup, tidak seorang pun boleh menyebut kekuranganku. Begitu seseorang mengatakan sepatah kata saja tentang kesalahanku, aku langsung membalas dengan kata-kata kasar, bahkan memukulnya. Aku paling suka memukul kepala orang. Memukul kepala dapat membuat lawan pingsan, dan dengan begitu aku menang. Aku suka menang dan tidak pernah mengaku kalah. Setelah mendengar perkataan Bodhisattva hari ini, aku menyadari bahwa aku telah melakukan kesalahan berat. Aku mengakui kesalahanku. Mohon Bodhisattva menyelamatkanku! Aku ingin meninggalkan neraka.” Saat itu petugas hantu membawa roh perempuan itu kembali.
Aku melihat cahaya hati roh perempuan itu tidak seredup sebelumnya, tetapi masih belum begitu terang. Aku pun bertanya kepada Kṣitigarbha, “Apakah roh perempuan itu harus menjalani seluruh pembalasan karmanya di neraka sebelum dapat meninggalkannya?”
Kṣitigarbha memberikan ajaran, “Sebab dan kondisi yang terjalin hari ini dapat membuatnya bertemu Dharma sejati dan membina diri ketika kelak terlahir di dunia manusia. Namun, itu masih sangat jauh di masa depan. Sekarang kita tanamkan dahulu suatu jalinan kebajikan!”
Terima kasih atas ajaran Kṣitigarbha, bagaikan sari mentega termurni dan embun amerta yang langsung membasahi tubuh serta batin!
Aku bersujud berterima kasih kepada Bodhisattva, lalu memohon diri lebih dahulu!