Avalokiteśvara sering menolong mereka yang menderita di neraka. Belakangan ini Bodhisattva datang untuk membimbing para makhluk di neraka perilaku seksual yang menyimpang dari sila. Aku akan membawamu melihatnya. Bagi kaum muda yang berada di neraka perilaku seksual yang menyimpang dari sila, sangat jarang ada orang tua di alam manusia yang membantu mereka mengumpulkan jasa kebajikan dan melimpahkannya kepada mereka, sehingga mengundang tanggapan Avalokiteśvara untuk datang menyelamatkan mereka di neraka. Dalam Bab Pintu Universal, Buddha bersabda, ‘Buddha berkata kepada Bodhisattva Akṣayamati: Putra berbudi! Jika ada ratusan, ribuan, puluhan ribu, dan ratusan juta makhluk yang tak terhitung banyaknya, yang mengalami berbagai penderitaan dan kesusahan, mendengar tentang Avalokiteśvara ini lalu dengan sepenuh hati menyebut nama-Nya, Avalokiteśvara segera mengamati suara mereka, dan semuanya memperoleh pembebasan.’”
Kami sudah sampai! Terasa ada cahaya Buddha yang menyinari tempat ini. Seketika tempat ini menjadi sejuk dan tenang, begitu murni hingga menenteramkan tubuh dan batin! Hakim alam baka mengatakan bahwa Avalokiteśvara sedang menyelamatkan seorang anak laki-laki di Neraka Mata Listrik dan Bola Besi!
Aku, murid-Mu Shangguan Yuhua, bersujud menghormati Avalokiteśvara dengan kelima bagian tubuh menyentuh tanah! Kulihat Bodhisattva menampakkan wujud Bunda Maria dalam agama Katolik yang penuh welas asih. Hakim alam baka mengatakan bahwa Bunda Maria sebenarnya merupakan salah satu wujud penjelmaan Avalokiteśvara.9
Dalam Bab Pintu Universal, Buddha bersabda, “Bodhisattva Akṣayamati berkata kepada Buddha, ‘Yang Dijunjung Dunia! Bagaimanakah Avalokiteśvara mengembara di dunia Sahā ini? Bagaimanakah Beliau membabarkan Dharma kepada para makhluk? Bagaimanakah daya upaya terampil-Nya bekerja?’ Buddha berkata kepada Bodhisattva Akṣayamati, ‘Putra berbudi! Jika di suatu negeri terdapat makhluk yang harus diselamatkan melalui tubuh Buddha, Avalokiteśvara segera menampakkan tubuh Buddha dan membabarkan Dharma kepada mereka. Bagi mereka yang harus diselamatkan melalui tubuh Pratyekabuddha, Beliau segera menampakkan tubuh Pratyekabuddha dan membabarkan Dharma kepada mereka.’” Avalokiteśvara membimbing para makhluk sesuai dengan kondisi yang ada dan menampakkan wujud yang sesuai dengan kondisi tersebut.
Ketika kulihat anak laki-laki di Neraka Mata Listrik dan Bola Besi itu, wajahnya terasa sangat kukenal. Ah! Aku ingat! Setahun lalu aku pernah melihat foto mendiangnya di ruang persemayaman sebuah rumah duka. Ruang persemayamannya tepat di sebelah ruang kerabatku. Saat itu, orang tuanya menyelenggarakan pemakaman menurut tata cara Katolik, tanpa mempersembahkan dupa atau mengadakan upacara Buddhis, hanya melafalkan teks keagamaan dan berdoa. Pada kunjungan sebelumnya, hakim alam baka pernah menjelaskan bahwa anak laki-laki ini meninggal pada usia dua belas tahun. Ia adalah satu-satunya putra orang tuanya. Setiap hari orang tuanya berlinang air mata, dan perasaan mereka belum pulih. Mereka menganut agama Katolik dan hanya tahu berdoa kepada Bunda Maria setiap hari serta berbuat baik dengan membantu orang miskin. Perbuatan ini mengundang tanggapan Avalokiteśvara yang penuh welas asih untuk datang membimbing anak laki-laki tersebut.
Sekarang kulihat tubuh Bunda Maria kembali memancarkan cahaya welas asih berwarna putih yang murni. Cahaya itu menyinari seluruh neraka. Neraka telah menjadi sejuk, dan semua hukuman dihentikan untuk sementara. Aku ingat, ketika mengunjungi Neraka Mata Listrik dan Bola Besi tahun lalu, keadaan anak ini sungguh mengenaskan. Darah mengalir memenuhi lantai, begitu mengerikan hingga tak tega dilihat. Anak itu membuat tanda salib pada tubuhnya dengan tangan dan mengucapkan terima kasih kepada Bunda Maria yang suci. Ia mengatakan bahwa dalam mimpi pun ia tak pernah membayangkan dapat bertemu langsung dengan Bunda Maria.
Saat itu, Bunda Maria memberikan ajaran dengan suara lembut penuh welas asih, “Tubuh, rambut, dan kulitmu diterima dari orang tua. Anakku, jatah hidupmu di alam manusia belum habis, tetapi rohmu sudah kembali ke alam baka. Tahukah engkau bahwa kedua orang tuamu di alam manusia merasa seolah hati mereka ditusuk sepuluh ribu anak panah?”10
Anak itu sudah tidak dapat menahan air matanya. Dengan wajah basah oleh air mata, ia menangis dan berkata, “Seandainya waktu dapat diputar kembali, aku tidak akan pernah lagi melihat terbitan pornografi apa pun. Hari ini aku ingin bertobat sepenuhnya di hadapan Bunda Maria yang suci. Aku juga sangat ingin menyatakan pertobatanku kepada orang tua, tetapi aku tak dapat berkomunikasi dengan mereka lagi. Aku anak yang tidak berbakti! Aku pantas mati! Orang tuaku sangat menyayangiku. Apa pun yang kubutuhkan, mereka selalu memenuhi permintaanku. Secara materi, aku sudah sangat berkecukupan. Aku tinggal di rumah besar dengan dua pekerja rumah tangga yang merawatku siang dan malam. Aku juga sangat merasakan kasih sayang orang tuaku. Namun, kini aku hanya dapat berharap bisa membalas budi mereka dalam membesarkanku pada kehidupan mendatang.”
[Catatan penyunting: Rincian eksplisit yang melibatkan anak di bawah umur tidak ditampilkan. Anak tersebut menceritakan bahwa pada usia enam tahun, karena rasa ingin tahu, ia melihat situs pornografi di komputer. Belakangan, ia menjadi kecanduan, lalu hal itu menjadi kebiasaan. Kedua orang tuanya sibuk bekerja, berangkat pagi dan pulang malam. Seusai sekolah, ia ditemani dua pekerja rumah tangga perempuan. Ketika orang tuanya tidak di rumah, kedua pekerja itu sering berbicara lewat telepon dengan teman-temannya. Mereka mengira ia berperilaku baik karena berada di kamarnya, sehingga tidak mengganggunya.]
“Keadaan ini berlanjut sampai aku berusia sepuluh tahun. Aku mulai mengalami sakit pinggang, seluruh tubuhku sangat lelah dan tidak bertenaga, serta selalu merasa mengantuk. Bahkan untuk berjalan pun aku harus memakai tongkat, benar-benar seperti seorang kakek kecil. Ibuku membawaku berobat kepada banyak dokter, tetapi tidak satu pun berhasil menyembuhkanku. Belakangan, seorang tabib pengobatan tradisional Tiongkok menetapkan bahwa aku mengalami kekurangan energi ginjal yang parah dan penuaan dini. Barulah pada saat itu orang tuaku mengetahui bahwa aku bermasturbasi. Meskipun aku dimarahi, bagaimanapun juga orang tuaku tetap sangat menyayangiku dan terus membawaku mencari tabib-tabib terkenal. Aku pun mulai merasakan dampak buruk masturbasi dan berhenti melakukannya untuk sementara. Ketika aku tampak lebih patuh, pengawasan orang tuaku pun mulai mengendur.”