Aku bersyukur atas berkah daya Buddha! Aku berangkat dengan menaiki teratai putih!
Amitābha! Aku, Ayu, merangkapkan kedua telapak tangan untuk memberi hormat kepada hakim alam baka!
“Hakim alam baka! Hari ini aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Konon ada manusia yang masih hidup yang dapat memeriksa Kitab Kehidupan dan Kematian di alam baka. Apakah itu benar? Apakah Kitab Kehidupan dan Kematian sungguh ada, dan seperti apakah kitab itu? Kudengar peramalan nasib di dunia manusia dapat mengungkap hal-hal yang tercatat dalam Kitab Kehidupan dan Kematian. Benarkah demikian? Apakah banyaknya makanan yang dimakan dan pakaian yang dikenakan sudah ditentukan sebelum lahir? Jika jatah umur sudah ditentukan saat lahir, apakah hal-hal seperti menjaga kesehatan tubuh, menjalani rutinitas hidup yang teratur, makan secukupnya, dan banyak berolahraga dapat menambah jatah umur yang semula ditetapkan? Ataukah ketetapan itu sama sekali tidak dapat diubah? Apakah takdir dapat diubah? Apakah permohonan untuk memperpanjang umur dapat terkabul? Apakah ada batas jumlah pertambahan atau pengurangan umur? Terima kasih, Hakim alam baka!”
Hakim alam baka menjawab, “Di dunia manusia memang ada orang yang dapat datang ke alam baka untuk memeriksa Kitab Kehidupan dan Kematian. Tentu saja, manusia yang masih hidup dan dapat datang ke alam baka untuk memeriksa kitab itu bukan manusia biasa; mereka pasti memiliki sebab dan kondisi khusus. Manusia yang jatah hidupnya belum berakhir tidak dapat datang ke alam baka. Secara umum, ada dua jenis orang yang datang ke alam baka. Jenis pertama datang mengikuti kekuatan karma, yakni mereka yang semasa hidup melakukan berbagai karma buruk yang mengantarkan ke neraka. Mereka datang untuk menerima balasan sesuai karma dan tidak dapat menentukan sendiri. Secara keseluruhan, mereka telah melakukan tiga jenis karma: karma tubuh, karma ucapan, dan karma pikiran. Karma tubuh mencakup tiga kategori utama, yaitu membunuh, mencuri, dan melakukan perilaku seksual yang menyimpang dari sila. Karma ucapan mencakup empat kategori utama, yaitu berdusta, mengucapkan perkataan sia-sia, berkata kasar, dan mengucapkan perkataan yang memecah belah. Karma pikiran mencakup tiga kategori utama, yaitu keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin.
Makhluk-makhluk di dunia manusia yang melakukan tiga karma tubuh, empat karma ucapan, dan tiga karma pikiran tersebut akan kembali ke alam baka sebagai roh setelah jatah hidupnya berakhir. Di sini aku hanya menjelaskannya secara singkat dan umum. Secara terperinci masih ada banyak penggolongan, yang tidak akan kuuraikan di sini. Ada pula makhluk yang perbuatannya semasa hidup tidak baik dan tidak buruk, dengan kebaikan dan keburukan sama banyak. Setelah jatah hidupnya berakhir, mereka terlahir di kawasan rakyat biasa di alam hantu. Mereka juga termasuk jenis pertama.
Jenis kedua datang mengikuti kekuatan Buddha, kekuatan ikrar, dan kekuatan berkah serta kebajikan. Manusia yang masih hidup dari jenis ini pasti merupakan praktisi yang memiliki misi khusus di dunia manusia. Mereka dengan ketat menjaga sila yang murni, menolong mereka yang menderita di berbagai tempat sesuai kondisi, dan membawa makhluk berperasaan terbebas dari penderitaan serta memperoleh kebahagiaan. Demi menyelamatkan semua makhluk, mereka menyebarkan Dharma sejati di mana-mana. Ketika bertujuan menyelamatkan semua makhluk, praktisi semacam ini dapat datang ke alam baka untuk memeriksa Kitab Kehidupan dan Kematian. Namun, kejadian seperti ini amat langka.
Di alam baka, Kitab Kehidupan dan Kematian berada di bawah pengelolaan hakim alam baka dan biasanya selalu dipegang olehnya. Kitab Kehidupan dan Kematian mencatat besar-kecilnya berkah setiap orang, yaitu banyaknya makanan yang dimakan dan pakaian yang dikenakan, tanah pertanian, rumah, harta keluarga, orang tua, saudara laki-laki dan perempuan serta kerabat, penyakit, bencana, malapetaka yang harus dilalui, dan juga jatah umurnya. Semuanya dicatat secara terperinci.
Misalnya, jatah hidup seseorang akan berakhir pada tahun, bulan, hari, jam, dan menit tertentu di suatu tempat tertentu. Semua itu telah tertulis dalam Kitab Kehidupan dan Kematian sebelum ia terlahir di dunia manusia, dan tidak boleh diubah sembarangan. Untuk mengubahnya, harus tersedia data yang diberikan oleh dewa pendamping sejak lahir yang berada di sisi setiap makhluk, lalu harus mendapat persetujuan Raja Yama tertinggi di alam baka. Barulah perubahan dapat dilakukan.
Peramalan nasib di dunia manusia memang dapat mengungkap hal-hal yang tercatat dalam Kitab Kehidupan dan Kematian. Seorang peramal hanya memerlukan delapan aksara kelahiran seseorang yang tepat untuk menghitung keberuntungan, kemalangan, berkah, dan bencana sepanjang hidupnya. Namun, ia hanya dapat menghitungnya, tidak dapat mengubahnya. Di dunia manusia, di mana-mana ada orang yang mengaku dapat mengubah takdir, keberuntungan dalam kekayaan, perkawinan, karier, dan sebagainya. Sebagian besar merupakan salah satu siasat bisnis yang bermaksud mengeruk uang. Banyak orang merasa terguncang ketika peramal dapat menyebutkan secara tepat kejadian masa lalu atau jumlah anggota keluarga mereka, lalu mengira telah bertemu orang berkemampuan tinggi. Memang ada peramal yang mahir dalam ilmu peramalan dan dapat menghitungnya, tetapi dalam banyak kasus, sesungguhnya peramal itu dirasuki roh.
Roh memiliki kemampuan seperti membaca pikiran orang lain dan kekuatan lainnya, sehingga dapat mengetahui pikiran serta gagasan orang yang diramal dan beberapa kejadian masa lalunya. Namun, manusia di dunia sama sekali tidak dapat membedakannya. Mereka malah merasa beruntung telah bertemu orang berkemampuan tinggi, lalu menuruti setiap perintah peramal itu. Setelah itu dimulailah serangkaian program yang disebut peningkatan nasib secara menyeluruh: mengubah keberuntungan, memperbaiki hubungan antarmanusia, meningkatkan keberuntungan karier, jodoh, dan kesehatan, menyusun formasi fengshui, serta berbagai hal lainnya. Tanpa mereka sadari, banyak uang telah dibelanjakan dan cukup banyak waktu terbuang, padahal takdir yang sudah ditetapkan sebenarnya tidak berubah sedikit pun. Bencana tetap datang, mereka tetap akan jatuh sakit, dan pada akhirnya tetap harus mati.