Keturunan para dewa pada waktu itu, yakni manusia yang paling awal, masih mengingat berbagai budi baik dan dendam, kehidupan cinta, serta hal-hal lain dari kehidupan lampau, sehingga hal itu memengaruhi dan mengacaukan kehidupan normal di dunia manusia. Namun, setelah meminum Sup Nenek Meng, mereka akan mengalir mengikuti karma dan melupakan semua orang serta peristiwa dari kehidupan sebelumnya, sehingga dapat kembali menempa batin mereka.
Sup Nenek Meng memiliki lima rasa dalam kehidupan manusia: manis, asam, pahit, pedas, dan asin. Kelima rasa ini juga melambangkan nasib setelah terlahir di dunia manusia, yang mencakup segala rasa manis, asam, pahit, dan pedas. Setiap cangkir Sup Nenek Meng tampak sama, tetapi sebenarnya takaran bahan di dalamnya berbeda-beda, meskipun bahan-bahannya secara keseluruhan sama. Misalnya, sebagian makhluk memiliki nasib yang lebih baik, berkah besar, kelahiran terhormat, kekayaan berlimpah, penghormatan dari orang lain, kesehatan tubuh, dan sebagainya. Sup Nenek Meng yang diminum orang-orang seperti ini akan lebih kuat rasa manisnya. Mereka yang berkahnya buruk akan merasakannya sangat pahit dan asam, sedangkan mereka yang berkahnya biasa saja akan merasakan campuran kelima rasa, dan saat meminumnya juga merasakan dahaga terpuaskan. Karena karma berbeda-beda, pengalaman setiap makhluk ketika meminum Sup Nenek Meng pun berbeda. Dewi Nenek Meng juga berasal dari dunia manusia, tetapi ia bukan jatuh ke neraka, melainkan diutus oleh Kaisar Langit untuk bertugas di alam baka.
Ketika berada di dunia manusia, Dewi Nenek Meng adalah seorang praktisi Buddhis yang menjaga kesucian diri dan menjalankan laku brahmacarya yang murni sepanjang hidupnya. Nama duniawinya semasa hidup adalah Nenek Meng. Sejak lahir ia berhati baik dan dengan penuh semangat membantu orang-orang miskin di sekitarnya. Ia melihat betapa pahit kehidupan makhluk-makhluk di dunia manusia karena perasaan, cinta, perselisihan antaranggota keluarga, dan sebagainya; pada waktu itu, terutama banyak perempuan hidup dalam penderitaan. Pada zaman dahulu, perempuan dianggap berbudi jika tidak memiliki kecakapan. Kedudukan mereka terbatas pada meneruskan garis keturunan, melahirkan dan membesarkan anak, mendampingi suami, serta mendidik anak. Karena itulah banyak perempuan hidup dalam kepedihan dan ketidakberdayaan, menangis sedih seorang diri. Nenek Meng menyimpan semua yang dilihatnya itu di dalam hati dan berusaha sekuat tenaga membantu perempuan-perempuan menderita yang memiliki jalinan dengannya. Hal ini juga membangkitkan ikrarnya untuk membantu semua makhluk melupakan penderitaan, agar mereka dapat melupakan masa lalu dan memulai kehidupan kembali. Pada waktu itu, sangat banyak makhluk yang berhasil dibimbingnya. Ke mana pun ia pergi, ia mengajak orang untuk tidak membunuh, bervegetarian, melafalkan sutra, dan menyebut nama Buddha.
Saat itu Nenek Meng berpikir, alangkah baiknya jika kelak ada sejenis sup yang tidak membahayakan tubuh sedikit pun dan dapat membuat orang melupakan semua penderitaan setelah meminumnya! Ketika hidupnya berakhir, berkat kekuatan berkah dan kebajikan dari membantu serta membimbing makhluk-makhluk yang mengalami kesulitan semasa hidup, ia naik ke alam dewa. Kaisar Langit mengangkat Nenek Meng menjadi dewi, dan di alam dewa ia memiliki istananya sendiri serta menikmati berbagai berkah surgawi.
Belakangan, Kaisar Langit melihat bahwa batin makhluk-makhluk di dunia manusia juga mulai memburuk. Sebagian orang masih mengingat orang, peristiwa, dan benda dari kehidupan sebelumnya setelah terlahir kembali dalam samsara, sehingga kejadian yang mengacaukan kehidupan dan tatanan etika dunia manusia kerap terjadi. Kebetulan, semasa hidup Nenek Meng telah mengikrarkan niat baik untuk membantu semua makhluk melupakan penderitaan. Dengan jalinan keadaan ini, sekaligus untuk memenuhi ikrar baiknya, dibangunlah secara khusus Panggung Ouwang di alam baka, dan Dewi Nenek Meng ditugaskan untuk mengelolanya. Panggung Ouwang khusus mengembangkan Sup Nenek Meng untuk diminum makhluk-makhluk yang akan terlahir kembali. Di sana ada petugas hantu, yakṣa, dan lainnya yang siap menjalankan perintahnya. Ayu, aku akan membawamu melalui jalur khusus untuk berkunjung ke sana; jaraknya akan jauh lebih dekat. Panggung Ouwang terletak di belakang Balai Kesepuluh alam baka.”
Dengan penuh rasa terima kasih, aku berkata, “Terima kasih atas bantuan Anda, Hakim!”
Jalur khusus ini benar-benar istimewa. Tidak terdengar sedikit pun jeritan dan ratapan penderitaan dari neraka; tampaknya perlengkapan peredam suaranya sangat bagus. Sekarang terlihat sebuah bangunan. Di dalamnya ada meja dan bangku, tetapi mengapa tidak ada seorang pun?
Hakim alam baka berkata, “Ini adalah ruang rapat. Sekarang semua sedang sibuk di luar, dan selama beberapa hari ini tidak ada rapat. Kalau ada rapat, aku tidak dapat membawamu melalui jalan pintas ini. Semua benda ini kami gunakan saat rapat. Sebelum menugaskanmu menulis Hukum Alam Baka yang Tak Kenal Ampun, kami mengadakan rapat di sini. Di sini pula aku menerima dokumen resmi Surat Alam Baka yang dikeluarkan alam baka, yang menugaskanku menyambutmu, Ayu, untuk berkunjung dan berkeliling di alam baka, serta membuka rahasia langit secara luas kepadamu. Setelah kembali ke dunia manusia, engkau dapat menuliskan apa yang kaulihat dan dengar di alam baka untuk membimbing orang-orang di dunia agar berbuat baik dan mengumpulkan kebajikan.”
Ah, rupanya begitu! Di depan masih ada lorong, dan kami melewatinya dengan sangat cepat.
Terlihat tulisan “醧忘台” (Panggung Ouwang) dalam tiga aksara besar. Tempat ini juga sangat luas! Rasanya agak seperti kedai teh herbal berukuran luar biasa besar di dunia manusia. Di sini ada tiga jenis tong dengan warna berbeda. Hakim menjelaskan bahwa tong transparan berisi sup yang kuat rasa manisnya, yakni untuk mereka yang memiliki berkah paling besar; tong putih berisi sup untuk makhluk yang berkahnya biasa saja; dan tong hitam berisi sup untuk makhluk yang berkahnya paling buruk. Bahkan warna pakaian ketiga jenis petugas hantu yang membagikan Sup Nenek Meng juga disesuaikan: petugas hantu yang membagikan isi tong transparan mengenakan pakaian transparan, yang membagikan isi tong putih mengenakan pakaian putih, dan yang membagikan isi tong hitam mengenakan pakaian hitam.