Sangat banyak petugas hantu sedang sibuk menuangkan Sup Nenek Meng ke dalam cangkir. Cangkir-cangkir itu berbentuk bulat dan memiliki sebuah kaki di bagian bawah yang menopang badannya. Warna, ukuran, dan modelnya tampak sama. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, meskipun tampaknya sama, sebenarnya ada sedikit perbedaan. Semua cangkir transparan dan berukuran seragam, tetapi berbeda pada pola timbul di kakinya. Kaki cangkir transparan yang satu halus tanpa pola, sehingga terasa nyaman di tangan ketika makhluk roh mengangkatnya untuk meminum Sup Nenek Meng. Kaki cangkir transparan lainnya memiliki sedikit pola timbul yang terasa ketika dipegang. Kaki cangkir transparan jenis terakhir memiliki pola timbul berbentuk segitiga; ketika makhluk roh mengangkatnya untuk minum, pola itu terasa agak menusuk tangan dan tidak begitu nyaman.
Di dalam Panggung Ouwang terdapat banyak ruangan kecil yang terbagi di sisi kiri dan kanan. Sisi kiri diperuntukkan bagi mereka yang memiliki berkah besar untuk meminum Sup Nenek Meng yang kuat rasa manisnya. Mari melihat setiap ruangan kecil di sebelah kiri terlebih dahulu. Di dalamnya masing-masing ada meja dan bangku. Di atas meja tersedia secangkir Sup Nenek Meng yang kuat rasa manisnya, dan ada pula dua pelayan perempuan yang menyajikannya kepada makhluk roh untuk diminum. Artinya, mereka yang memiliki berkah baik dapat duduk dan minum di dalam ruangan, agak mirip ruang untuk tamu istimewa di dunia manusia, serta menikmati perlakuan khusus. Sekarang lihat setiap ruangan kecil di sebelah kanan. Di dalamnya juga masing-masing ada meja dan bangku. Di atas meja tersedia secangkir Sup Nenek Meng dengan kelima rasa yang lengkap, tetapi hanya ada satu pelayan perempuan yang menyajikannya kepada makhluk roh untuk diminum. Jadi, mereka yang berkahnya biasa saja juga dapat duduk dan minum di dalam ruangan.
Setelah terus berjalan ke depan, terlihat Paviliun Nenek Meng. Rupanya Dewi Nenek Meng berada di paviliun itu.
“Ayu memberi hormat kepada Dewi Nenek Meng dengan merangkapkan kedua telapak tangan!”
Dewi Nenek Meng tersenyum kepadaku. Hakim mengatakan bahwa Dewi Nenek Meng biasanya berada di Paviliun Nenek Meng. Di paviliun inilah paling banyak terjadi peristiwa. Kadang-kadang ada makhluk roh yang menolak meminum Sup Nenek Meng. Semua makhluk yang datang ke Paviliun Nenek Meng untuk meminum sup memiliki berkah yang relatif buruk, yakni rintangan karma yang lebih berat. Karena itu, petugas hantu di sini juga jauh lebih banyak, dan semuanya memegang garpu runcing.
Aku melihat banyak makhluk roh mengantre menuju Paviliun Nenek Meng. Mereka semua tampak sangat lelah dan amat kehausan; sebagian sudah tidak bertenaga sama sekali. Mereka yang masih sanggup berjalan melangkah sendiri, lalu mengambil sup untuk diminum ketika tiba gilirannya. Mereka yang tidak bertenaga ditopang oleh petugas hantu sampai ke paviliun, lalu para petugas hantu membantu meminumkan sup kepada mereka.
Saat itu terdengar jeritan. Rupanya ada roh perempuan yang menolak minum dan dipukul oleh dua petugas hantu. Aduh, sungguh mengenaskan keadaannya! Seorang petugas hantu memukul kakinya dengan garpu, sehingga ia jatuh ke tanah dan kakinya berdarah. Melihat itu, petugas hantu yang lain segera menusuk dan mengangkatnya dengan garpu, lalu memaksanya menelan tiga cangkir sup. Hakim mengatakan bahwa kelak di dunia manusia roh perempuan ini akan mengalami sakit kaki dan gangguan pada tenggorokannya. Rupanya makhluk roh yang menolak meminum Sup Nenek Meng bukan hanya dipukul oleh petugas hantu, tetapi juga dihukum dengan harus meminum dua cangkir tambahan Sup Nenek Meng yang pahit. Akibat lanjutannya adalah harus menanggung lebih banyak penderitaan jasmani. Setelah meminum Sup Nenek Meng, semua makhluk roh menjadi pening dan linglung, lalu ditopang oleh para petugas hantu untuk pergi terlahir kembali.
Aku melihat sebuah sungai besar di depan Paviliun Nenek Meng. Begitu makhluk-makhluk roh jatuh ke dalam sungai, mereka pun terlahir kembali di dunia manusia.
Hakim berkata, “Waktu hari ini sudah habis. Ayu, datanglah lagi lain kali!”
Aku merangkapkan kedua telapak tangan dan bersujud memberi hormat kepada hakim alam baka! Lalu aku kembali dengan menumpang teratai putih!