• “Aku” dalam syair tentang tiang kayu hangus: dalam konteks Saṅghāṭa Sūtra, yang berbicara adalah seorang tokoh yang menyesali perbuatannya. Tiang hangus merupakan perumpamaan dalam keluhannya.
Rujukan singkat: buku pelajaran Pendidikan Agama Buddha, hlm. 108; Kumpulan Khotbah Sang Buddha, pengantar tentang saṃsāra; Saṅghāṭa Sūtra, T13n0423, 0963c19–0964a08.
Jilid I Bab 18
Catatan pendamping bab 18
Penjelasan penyunting berikut terpisah dari narasi dan ucapan tokoh.
• Arhat: sebutan bagi yang telah terbebas dari kekotoran batin. Dalam kutipan Mahāprajñāpāramitāśāstra pada bab ini, sebutan tersebut digunakan untuk Buddha. Konteks asli, T25n1509, 0071b19–0071c01.
• Mahāmāyūrī: sosok suci Buddhis yang dikenal dengan lambang merak; dalam teks Buddhis berbahasa Indonesia juga disebut Vidyarajni Mahamayuri. Contoh pemakaian nama.
• Ungkapan “memasuki nirwana” di awal bab berada dalam konteks pesan Buddha menjelang akhir kehidupannya. Konteks pesan terakhir dalam T12n0389.
Jilid I Bab 19
Catatan istilah pendamping — Bab 19